Cabai dan LPG Non-Subsidi Pengaruhi Inflasi di Belitung Timur

Berdasarkan data bulan Mei 2026, kondisi inflasi dari bulan ke bulan (month-to-month) di Kabupaten Belitung Timur tercatat berada di angka 0,17 persen

Tayang:
Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha
RILIS BRS - Plh. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung Timur, Syahroni saat memaparkan rilis resmi perkembangan Berita Resmi Statistik (BRS) terkait inflasi periode Mei 2026 di Kantor BPS Belitung Timur, Selasa (2/6/2026). Dalam pemaparannya, BPS menyoroti andil komoditas cumi-cumi serta pasokan pangan pelengkap yang memicu dinamika inflasi di wilayah tersebut. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) merilis inflasi di Beltim, Selasa (2/6/2026).

Berdasarkan data bulan Mei 2026, kondisi inflasi dari bulan ke bulan (month-to-month) di Kabupaten Belitung Timur tercatat berada di angka 0,17 persen.

Plh. Kepala BPS Belitung Timur, Syahroni menjelaskan bahwa angka inflasi m-to-m di Beltim merupakan satu di antara yang terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sebagai perbandingan, wilayah tetangga Tanjungpandan mengalami inflasi m-to-m sebesar 0,36 persen, serta Kota Pangkalpinang sebesar 0,33 persen.

"Jadi kalau dari kondisi bulan ke bulan, kita di angka 0,17 persen, masih termasuk kategori terkendali," ujar Syahroni.

Syahroni membeberkan tiga komoditas utama yang andilnya cukup kuat menjadi motor penggerak inflasi di sepanjang bulan Mei ini.

"Bulan ini penyumbang terbesar dari kenaikan komoditas adalah bahan bakar rumah tangga, bawang merah, dan cabai merah," ucapnya.

Untuk sektor energi domestik, kenaikan didominasi oleh komoditas Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi. Hal tersebut terjadi akibat adanya kendala eksternal, tepatnya karena terganggunya jalur distribusi energi di tingkat internasional.

Sementara untuk lonjakan harga komoditas pangan seperti cabai merah dan bawang merah, faktor utamanya terletak pada tersendatnya pasokan dari daerah luar pulau selaku produsen.

Tingginya curah hujan di daerah produsen membuat volume hasil panen merosot, sehingga pasokan yang masuk ke Belitung Timur menjadi terbatas di tengah tingginya permintaan pasar karena adanya momen Hari Raya Iduladha.

Tertinggi secara y-to-y

Di sisi lain, kondisi kontras justru terlihat ketika ditarik pada data inflasi tahun ke tahun (year-on-year). Angka inflasi y-on-y Belitung Timur justru melesat di angka 3,02 persen dan menjadi yang tertinggi se-Provinsi Bangka Belitung.

BPS mencatat, kelompok pengeluaran terbesar yang menyumbang andil inflasi tahunan adalah sektor makanan, minuman, dan tembakau yang menyentuh angka 2,42 persen.

Jika dibedah berdasarkan komoditas pasar, terdapat tiga barang yang andilnya paling konsisten bertengger di posisi teratas, yaitu cumi-cumi, emas perhiasan, dan juga ikan kerisi.

Di antara ketiganya, komoditas hasil laut berupa cumi-cumi memegang rapor merah karena menjadi penyumbang inflasi tertinggi di sepanjang tahun berjalan 2026 ini, lantaran harganya naik gila-gilaan sejak Januari hingga April.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved