Kisah Pembantaian Satu Desa dengan Mencungkil Mata Bermula dari Permainan Anak-anak

Ada banyak pembunuhan massal di dunia yang disebabkan oleh alasan-alasan aneh.

Tayang:
Editor: Zulkodri
mathess/Getty Images/iStockphoto
Ilustrasi pembantaian massal. 

Kisah Pembantaian Satu Desa dengan Mencungkil Mata Bermula dari Permainan Anak-anak

POSBELITUNG.CO – Ada banyak pembunuhan massal di dunia yang disebabkan oleh alasan-alasan aneh.

Termasuk yang terjadi di Alaska, legenda mengatakan bahwa pembantaian di sana disebabkan oleh permainan anak panah.

Para arkeolog dari University of Aberdeen yang melakukan penggalian di kota Agaligmiut, berhasil mengungkap situs pembantaian massal berusia 350 tahun.

Situs tersebut berkaitan dengan serangkaian konflik di Alaska pada abad ke-17–terkenal dengan insiden “mencungkil mata”.

Dari hasil penggalian, ditemukan 28 kerangka yang kemungkinan meninggal saat pembantaian.

Selain itu, terungkap juga 60 ribu artefak, termasuk patung, topeng kayu, dan boneka.

Kisah di balik kematian massal tersebut cukup unik. Menurut The Bow and Arrow War Days on the Yukon-Kuskokwim Delta of Alaska karya Caroline L. Funk, itu bermula ketika seorang pria sedang bekerja di sebuah kapal di rumah pria lainnya, sementara kedua anak laki-laki mereka asyik bermain anak panah.

Tak diduga, salah satu anak melempar panah tersebut ke lawan mainnya hingga membuat “bola matanya keluar”.

Untuk membalas kesalahan anaknya, ayah pelaku memperbolehkan ayah korban untuk mencabut bola mata buah hatinya yang sudah melempar panah.

Sebuah aksi yang menggambarkan istilah “mata dibayar mata”.

Ayah korban pun setuju dengan permintaan tersebut. Namun, bukannya mencabut satu, ia justru mencungkil kedua bola mata si anak.

Melihat hal tersebut, ayah pelaku pun marah besar karena temannya itu melanggar kesepakatan.

Mereka kemudian saling menyerang dan mencabut bola mata masing-masing.

Selanjutnya, pertengkaran menyebar dan keluarga ikut terlibat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved