Fokus Corona, Jangan Lupakan Demam Berdarah, Sudah 47 Orang di NTT Meninggal karena DBD
Fokus Corona, Jangan Lupakan Demam Berdarah, Sudah 47 Orang di NTT Meninggal karena DBD
Oleh karena itu, jangan sampai terkecoh dengan penurunan demam ini.
Tubuh memang terasa seperti orang yang sudah sembuh, tapi justru fase ini yang perlu ditangani lebih lanjut.
Selama masa peralihan dari fase demam ke kritis, pasien akan berisiko tinggi untuk mengalami kebocoran plasma darah dari pembuluh, kerusakan organ tubuh, dan perdarahan hebat.
Gejala kebocoran pembuluh darah pada fase ini ditandai dengan mimisan dan muntah-muntah, hingga merasakan sakit perut yang tidak tertahankan.
Perlu diketahui juga bahwa fase kritis juga bisa terjadi tanpa kebocoran plasma yang disertai perdarahan luar.

Jadi meski dari tampak luar tidak mengeluarkan darah, sebetulnya tubuh sedang mengalami perdarahan internal yang lebih parah.
Jika fase ini terabaikan dan tidak segera mendapatkan pengobatan, trombosit pasien akan terus menurun secara drastis dan dapat mengakibatkan perdarahan yang sering tidak disadari.
Keterlambatan dalam penanganan bisa menyebabkan kematian mendadak pada penderita.
3. Fase Pemulihan
Bila pasien demam berdarah berhasil melewati fase kritisnya, penderita demam berdarah akan kembali merasakan demam.
Kondisi ini merupakan fase penyembuhan dimana trombosit dan sel darah putih akan perlahan naik dan normal kembali.
Penderita akan mengalami pengembalian cairan tubuh secara perlahan pada 48-72 jam setelahnya.
Mulai memasuki fase penyembuhan, kesehatan pasien demam berdarah akan berangsur-angsur membaik yang ditandai dengan peningkatan nafsu makan, penurunan gejala nyeri, dan fungsi diuretik yang membaik.
Pemeriksaan masih diperlukan untuk melihat perkembangan penyembuhan.
(TribunStyle.com/Gigih Panggayuh)
Artikel ini telah tayang di TRIBUNSTYLE.COM dengan judul Fokus dengan Corona, Jangan Lupakan Demam Berdarah, Tercatat 47 Orang di NTT Meninggal karena DBD