HORIZZON

Nasi Kotak Itu Isinya Tercecer Berserakan

MATA bocah berusia belasan tahun itu tampak berkaca-kaca. Tatapannya kosong, sementara kedua tangannya tampak memegangi erat sebuah dos yang terkoyak

zoom-inlihat foto Nasi Kotak Itu Isinya Tercecer Berserakan
pos belitung
Ibnu Taufik Jr / Pimred Bangka Pos Grup

Seperti bocah kecil yang belum juga melepaskan dos nasi kotak yang terkoyak, ia sempat memperoleh harapan. Namun meski nasi kotak itu sudah ia genggam, ia gagal menikmati buka puasa gratis sore itu.

Dos yang sudah ia pegang gagal ia selamatkan dari kerumunan dan akhirnya robek dan terkoyak. Isinya jatuh berserakan tak bisa dimakan. Dan siapa yang peduli dengan situasi itu? Mereka yang membawa dua dos pun seperti kehilangan nurani.

Inilah sepenggal kisah ‘mulia’ di tengah pandemi corona yang juga melanda Pangkalpinang. Saat banyak warga kehilangan pekerjaan, banyak dermawan yang mencoba untuk berbagi mengulurkan tangan.

Tanpa harus mengkri tisi tantang caranya, apa yang dilakukan adalah hal positif di saat sulit. Apa yang ia lakukan seyogyanya ditiru oleh dermawan-dermawan lain di Pangkalpinang.

Bumi Pangkalpinang dan Babel secara keseluruhan ini telah memberikan banyak keuntungan kepada mereka-mereka yang bernasib mujur. Butiran timah dari perut bumi Babel ini telah mencetak banyak orang kaya, yang tak salah apalagi berlebihan jika saat seperti ini mereka berbagi.

Soal bagaimana cara berbagi, lagi-lagi tak perlu diperdebatkan, karena berbuat baik tak bisa disalahkan. Toh niat baik saja sebenanrnya sudah dicatat sebagai amal kebaikan, utamanya di bulan suci ini.

Sebuah catatan tambahan, hanya beberapa saat setelah minibus sang dermawan itu berlalu, melintas sepasang pemulung dengan gerobaknya yag lusuh. Laki-laki separuh baya tampak berada di depan memegang ujung gerobak, Sementara wanita yang mungkin adalah istrinya mendorong dari belakang.

Di dalam gerobak, tampak anak kecil dengan wajah polos berdiri. Tinggi anak ini hampis sama dengan papan samping gerobak, sehingga kepalanya pas betul terlihat jelas ketika ia berdiri di atas gerobak.

Sepasang pemulung dengan gerobak ini melintas persis di kerumunan orang yang mungkin masih membicarakan nasi kotak berbuka puasa yang baru saja mereka perebutkan. Anehnya, pemandangan itu tak membuat pasangan pemulung ini bergeming.

Ia melintas begitu saja di antara orang-orang dan sejumlah sepeda motor milik orang-orang yang tengah membicarakan nasi kotak. Wajah anak kecil yang ada di atas gerobak itu juga tak ada yang berubah. Tanpa ekspresi anak kecil ini hanya memandang tanpa makna ke arah kerumunan tadi.

Dilihat dari arah datangnya, bisa dipastikan mobil sang dermawan pembagi nasi kotak itu sempat mendahului sepasang pemulung ini. Tanpa mengharuskan mobil dermawan tadi menyempatkan berhenti untuk menyapa sang pemulung yang dilewatinya dan memberikan nasi kotak, yang jelas saat diturunkan dari mobil, tiga plastik merah berisi 30 nasi kotak masih tampak utuh.

Lantaran kepentingan sebuah seremoni, kadang sebuah niat baik jadi tak tepat sasaran. Sebuah pengakuan terkadang juga menjadi noda dari putihnya amal.

Kerumunan orang di Alun-alun yang rata-rata mengendarai sepedamotor itu mungkin bukan mereka yang benar-benar butuh nasi kotak cuma-cuma. Pemulung penarik gerobak yang bahkan tak menghiraukan pembagian nasi kotak itu barangkali jauh lebih membutuhkan.

Bahkan barangkali tak perlu jauh-jauh mencari, banyak orang di sekitar kita yang jauh membutuhkan uluran tangan dibanding kerumunan di Alun-alun.

Jika kita tak lagi peduli dengan seremoni, jika semua tak peduli dengan pengakuan, maka sebenarnya tak perlu berkeliling jauh untuk mengantarkan kebaikan. Kita semua cukup peduli dengan orang-orang di sekitar kita. Karena kebaikan tak membutuhkan seremoni. (*)

Sumber: Pos Belitung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved