Breaking News:

Pandemi Virus Corona di Bangka Belitung

Risiko Anak Stunting di Belitung Dikhawatirkan Makin Meningkat Akibat Pandemi Virus Corona

Kasus stunting yang tinggi dengan persentase kasus di atas 20 persen masih terjadi di sembilan desa di Belitung.

Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung drg. Popy Aprilina 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung drg. Popy Aprilina mengatakan selama pandemi Covid-19, dikhawatirkan angka stunting makin meningkat.

Ini kemungkinan karena pengaruh ekonomi akibat banyak orang tua yang dirumahkan, pendapatan menurun, hingga menunggu bantuan sehingga berpengaruh pada makanan yang dikonsumsi.

"Berkurangnya pendapatan bisa mengakibatkan kurangnya kemampuan membeli makanan yang bergizi. Anak-anak sekolah di rumah, sehingga kebutuhan membeli paket internet, sehingga justru kebutuhan lain bertambah," katanya, Jumat (19/6/2020).

Sebenarnya sejauh ini, angka stunting di Belitung terbilang rendah.

Secara angka, tahun lalu kasus stunting mencapai 19,9 persen. Sementara tahun ini sebesar 10,96 persen.

Hanya kasus stunting yang tinggi dengan persentase kasus di atas 20 persen masih terjadi di sembilan desa di Belitung.

Kalau di Kecamatan Sijuk terjadi di Desa Tanjung Binga, Keciput, Tanjung Tinggi, dan Air Selumar.

Lalu di Kecamatan Selat Nasik itu di Desa Selat Nasik dan Pulau Gersik.

Sedangkan di Kecamatan Membalong terjadi di Desa Lassar, Pulau Sumedang, dan Mentigi.

Namun dalam kondisi saat ini, semua desa harus waspada. Apalagi pemantauan pertumbuhan anak sulit dilakukan karena posyandu juga tidak dibuka.

"Orang tua juga tidak punya timbangan di rumah, kalau punya timbangan, orang tua bisa mandiri di rumah," sebutnya.

Solusi yang dilakukan pihaknya dalam situasi seperti ini yaitu memeriksakan kesehatan pada balita dengan cara sweeping datang ke rumah yang dilakukan bidan desa, petugas gizi, kader posyandu.

"Itu berjalan saya wajibkan sweeping kalau tidak begitu maka tidak ada datanya. Jumlah balita misalnya posyandu sasaran 100 balita, yang datang hanya 50 balita, maka 50 balitanya didatangi satu per satu. Kalau kondisi saat ini, semuanya disweeping satu per satu," kata drg. Popy.

"Yang sehat sekalian ketika ibunya ke puskesmas mau imunisasi sekalian ditimbang, jadi bekerjasama dengan petugas puskesmas, kalau tidak begitu tidak dapat datanya," tutur dia. (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: Dedi Qurniawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved