HORIZZON

Pesan dari Masker

Pesan penting dari proses penjemputan yang dilakukan petugas, saat menjemput anggota DPRD Kabupaten Belitung yang dinyatakan positif terpapar Covid-19

Editor: Rusmiadi
pos belitung
Ibnu Taufik Jr / Pimred Bangka Pos Grup 

Sejumlah petugas yang melakukan penjemputan tampak hanya mengamankan dirinya dengan mengenakan masker.

Dalam satu frame foto, tampak juga ada pose dimana anggota dewan ini mencoba menunjukkan sebuah dokumen kepada petugas.

Meski dari posisi tubuhnya petugas berusaha untuk tidak mendekat dan tetap jaga jarak, namun tentu kemampuan baca petugas juga terbatas sehingga jarak antara mereka tak bisa lebih dari dua meter.

Syukurlah, anggota dewan tersebut bersikap kooperatif sehingga penjemputan terhadap yang bersangkutan dari hotel ke Balai Karantina berjalan lancar. Anggota dewan yang terpapar Covid-19 ini dengan sukarela masuk ke ambulans yang telah disiapkan.

Poin yang ingin kita diskusikan adalah, petugas yang melakukan penjemputan terhadap orang yang positif terpapar Covid-19 tidak mengenakan APD lengkap.

Ini bertolak belakang dengan proses pemakaman penderita Covid-19 yang dilakukan oleh petugas yang semuanya mengenakan APD lengkap, bahkan keluarga tidak boleh mendekat. Padahal, jika dilihat potensi penularan, proses pemakaman jenazah penderita Covid-19 jauh lebih minim penularan.

Penderita juga sudah meninggal yang artinya inang dari virus mati sehingga virusnya juga mati. Sementara risiko menjemput orang yang terdeteksi terpapar Covid-19 jauh lebih besar.

Orang yang terpapar Covid-19 bersifat aktif, bergerak bebas bahkan ada potensi bereaksi dan berintreaksi. Bukankah kita pernah membaca sebuah berita seorang penderita Covid-19 mengejar dan memeluk petugas yang menjemputnya?

Nah kasus tersebut juga berpeluang terulang.

Kita mencoba lebih bijak membaca pesan dari proses penjemputan terhadap anggota DPRD Kabupaten Belitung di sebuah hotel di Pangkalpinang pekan lalu.

Analisa pertama, petugas yang melakukan penjemputan tidak yakin dengan informasi yang diterima bahwa orang yang akan dijemput positif terpapar Covid-19. Meski pada akhirnya setalah dilakukan swab ulang anggota dewan ini negatif, namun analisa ini patut diabaikan alias nyaris tidak mungkin.

Analisa kedua, petugas yang melakukan penjemputan sudah terbiasa bersinggungan dengan orang-orang yang positif terpapar Covid-19.

Kebiasaan akan menciptakan habit atau perilaku baru sehingga petugas paham betul dengan langkah yang harus dilakukan. Analisa ini bisa jadi betul namun tentu butuh pendalaman dan klarifikasi.

Ketiga adalah analisa yang berkaitan dengan analisa kedua, dimana alam bawah sadar petugas penjemputan mengatakan bahwa Covid-19 tidak semenular dan seganas pemahaman umum saat ini.

Alam bawah sadar yang melandasi psikomotorik dari petugas inilah yang melandasi perilaku mereka tidak perlu memakai APD lengkap saat menjalankan tugasnya menjemput orang terpapar Covid-19.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved