Mengenal Sejarah Kue Apem, Makanan Khas Jawa yang Biasa Ditemukan saat Perayaan Tahun Baru Islam
Setelah acara, apem biasanya diperebutkan oleh masyarakat karena dipercaya menjadi berkah.
POSBELITUNG.CO - Tahun Baru Islam untuk masyarakat Jawa identik dengan kue apem.
Kalau anda pernah ikut dalam perayaan Tahun Baru Islam di Jawa Tengah, biasa menemukan apem.
Setelah acara, apem biasanya diperebutkan oleh masyarakat karena dipercaya menjadi berkah.
Sementara masyarakat Karanganyar, Jawa Tengah juga punya tradisi yang melibatkan apem yakni tradisi Wahyu Kliyu, melempar apem ke tikar yang telah dilapisi daun pisang.
Tradisi ini untuk memohon anugerah kepada Tuhan.
Apem ada sejak pra-Islam
Namun ternyata, apem tidak hanya bisa ditemukan dalam perayaan Tahun Baru Islam saja tapi juga banyak perayaan dan selamatan lain.
Salah satunya adalah ritual Ruah atau bersih desa sebelum Ramadan.
Sejarawan Heri Priyatmoko menjelaskan bahwa apem bahkan sudah ada sejak masa Pra-Islam dan jadi salah satu elemen dalam berbagai ritual masyarakat Jawa.
Salah satu alasannya adalah karena bahan pembuatan apem yang mudah didapatkan.
“Artinya enggak perlu ribet. Enggak perlu cari kemana-mana. Makanan tradisional yang bahannya ada di sekitar meraka,” kata Heri ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (11/8/2020).
“Makanya itu mudah sekali hadir enggak hanya saat Suro (Tahun Baru Islam) tapi juga perayaan lain,” sambung dia.
Apem adalah simbol kesederhanaan pada Tahun Baru Islam
Apem kemudian bisa identik dengan perayaan Tahun Baru Islam karena apem adalah sebuah sesaji yang selalu lekat dengan segala macam perayaan yang dilakukan masyarakat Jawa.
Sejak masa pra-Islam, sesaji berupa apem telah ada dalam berbagai bentuk ritual masyarakat.