Breaking News:

Berita Belitung Timur

Kulat Pelawan Asal Bangka Belitung Jadi Jamur Termahal di Indonesia, Ini Alasan dan Kandungannya

Ivan saat ini sedang melanjutkan kuliahnya di jenjang S3 di Tottori University bidang pertanian khususnya mengenai jamur.

Ist/Tebliyandi
Jamur atau kulat pelawan asal Pulau Belitong 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG TIMUR - Jamur pelawan atau dalam nama latinnya Heimioporus sp. adalah satu jenis jamur yang tumbuh berkelompok di lantai hutan di dekat sistem perakaran pohon pelawan.

Dosen Divisi Mikologi, Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor (IPB) Ivan Permana Putra mengatakan Heimioporus sp. ini tersebar di daerah subtropis hingga tropis, seperti Indonesia, Papua Nugini, Amerika, Australia, Belize, Tiongkok, Jepang, Malaysia, dan beberapa daerah lainnya.

Meski demikian, Ivan mengatakan belum bisa dipastikan Heimioporus sp. di Indonesia sama dengan Heimioporus sp. di berbagai negara tersebut karena beberapa faktor, seperti alam dan cuaca.

Ivan yang saat ini sedang melanjutkan kuliahnya di jenjang S3 di Tottori University bidang pertanian khususnya mengenai jamur, mengatakan sampai saat ini, di Indonesia jamur pelawan hanya ada di Bangka Belitung.

Baca juga: Chef Tiarbah Olah Kulat Pelawan, Jamur Termahal di Indonesia Asal Bangka Belitung, Segini Harganya

Namun, karena kurangnya ahli jamur di Indonesia maka untuk klasifikasi jamur masih minim.

Ia mengatakan kemungkinan jamur ini juga ada di Pulau Kalimantan karena di sana banyak juga distribusi pohon pelawan sebagai inang dari jamur ini.

"Di Babel, satu sumber tempat hidup jamur pelawan ini ada di Desa Kelubi, Manggar," kata Ivan saat dihubungi posbelitung.co, Selasa (26/1/2021).

Dalam jurnalnya di Wasian berjudul 'Potensi Beberapa Jamur Pangan Liar yang Bernilai Ekonomi di Pulau Belitong, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung' yang dipublikasikan pada Desember 2020, ia menjelaskan kulat ini belum bisa dibudidayakan karena gaya hidupnya berupa ektomikoriza yaitu tak bisa tumbuh tanpa pohon inangnya, dalam hal ini adalah pohon pelawan.

Walaupun begitu, lanjutnya, jamur ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat lokal di Pulau Belitung karena bisa dijadikan bahan makanan khas Belitong yang enak.

"Dari laporan Rich tahun 2011 juga menyebutkan bahwa jamur ini mengandung protein tinggi, rendah lemak, mineral, serat pangan, biotin, dan vitamin C," kata Ivan.

Dengan ketidakbisaannya dibudidaya, memiliki banyak kandungan, dan hanya ada di Bangka Belitung menyebabkan harganya juga melambung tinggi.

Ivan mengatakan berdasarkan hasil survei ke masyarakat dan para penjual jamur harga per kilogram jamur ini berkisar Rp 1-4 juta dalam bentuk kering, sedangkan dalam bentuk basah senilai Rp 200-500 ribu.

Harga ini sangat tinggi dibandingkan jenis jamur atau kulat lainnya di Pulau Belitong, seperti kulat sukatan kering seharga Rp 400-500 ribu, kulat pelandok basah Rp 30-35 ribu, kulat sawit dan kulat tiong basah senilai Rp 15-20 ribu per kilogram.

"Jamur-jamur ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut dalam tahap kultivasi dan analisis nutrisinya di masa mendatang dan jadi perhatian penting di Pulau Belitong karena bisa menjadi satu sumber kesejahteraan bagi masyarakat. Namun juga perlu diingat soal konservasi pohon pelawannya, jangan sampai punah," tutup Ivan. (Posbelitung.co/BryanBimantoro)

Penulis: Bryan Bimantoro
Editor: Dedi Qurniawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved