Berita Belitung

Tanjung Kelayang hingga Bukit Peramun, Ini Rekomendasi Geosite di Pulau Belitung bagi Delegasi G20

Beberapa daerah akan menyelenggarakan pertemuan secara online atau daring, sementara Belitung direncanakan menggelar secara offline.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Novita
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Wisatawan berenang dengan latar belakang lanskap formasi granit laut Batu Garuda di lepas pantai Tanjung Kelayang, Kabupaten Belitung. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Belitung rencananya akan menjadi tuan rumah pelaksanaan Development Working Group (DWG) bagi Menteri Pembangunan peserta G20.

Sesuai tema G20 yang erat kaitannya dengan climate change atau perubahan iklim, blue economy, dan green economy, sejumlah objek geosite pun direkomendasikan kepada para delegasi.

Sekretaris Badan Pengelola Geopark Belitong, Annyta, mengatakan, rangkaian DWG G20 akan diselenggarakan di berbagai daerah seperti Lombok, Jakarta, Yogyakarta, Bali, termasuk Belitung.

Beberapa daerah akan menyelenggarakan pertemuan secara online atau daring, sementara Belitung direncanakan menggelar secara offline.

"Jika di Jakarta mereka melihat gedung-gedung tinggi karena kota besar, Belitung pengin memperlihatkan kepada peserta yang terdiri dari Menteri Pembangunan untuk melihat aktivitas masyarakat Indonesia dalam mengelola climate change, blue economy, dan green economy," kata Annyta, Jumat (18/2/2022).

Makanya, ada beberapa geosite yang bakal dipersiapkan menyambut gelaran internasional tersebut.

Satu di antaranya yakni Geosite Tanjung Kelayang yang ikonik keindahan geologi yang luar biasa, karena terlihat cantik dengan formasi batuan granit laut.

Geosite lain yang bakal ditunjukkan yakni Geosite Bukit Peramun, yang dikelola komunitas penjaga hutan, hingga dikenal sebagai hutan digital atau digital forest.

Ada juga Geosite Juru Seberang, yang dikelola komunitas yang merestorasi lahan tambang yang porak poranda hingga menjadi sangat representatif untuk kegiatan pariwisata dan konservasi.

"Kemudian ada juga Geosite Open Pit Nam Salu yang terkenal sejarah tambang tua, di mana bukaan tambang masih utuh dan bisa dilihat sampai sekarang, yang terdapat terowongan. Di situ keren, dengan adanya bukaan tambang ada formasi Kelapa Kampit yang terlihat jelas," jelasnya.

Ditambah juga geosite lain seperti Batu Bedil, dengan konsep mengembangkan konservasi kerang kima dan Geosite Buku Limau dengan kegiatan-kegiatan konservasi di laut dan pulaunya. Juga Geosite Pulau Seliu dan calon Geosite Pulau Mendanau.

Persiapan geosite ini, jelas Annyta, mulai dari peningkatan SDM yang tetap dilakukan, baik peningkatan SDM aparatur, komunitas, dan pelaku wisata, walaupun dengan jumlah yang tidak seperti normal.

Juga berupaya melengkapi infrastruktur sarana prasarana di setiap geosite dengan bekerja sama atau dibantu Kementerian/Lembaga.

"Kita berusaha untuk melengkapi fasilitas geosite, baik itu penambahan atau peningkatan kualitas. Contohnya toilet, agar menjadi lebih bersih dan penambahan-penambahan. Kami berharap mendapat bantuan dari kementerian yang lain untuk penguatan titik-titik yang ada atau geosite yang akan diangkat untuk menjadi rekomendasi dikunjungi peserta G20," sebut dia.

Rencananya, pekan depan Bappenas akan turun untuk mengidentifikasi langsung kelengkapan atau kebutuhan per geosite untuk dikoordinasikan dengan pihak terkait.

"Kita sangat berharap melalui event G20 bagaimana UNESCO Global Geopark sudah mengangkat Geopark Belitong mendunia. Melalui G20 untuk membenahi infrastruktur yang berstandar global," jelas Annyta.

"Kkita berharap bahwa melalui momen ini Belitung mendaftarkan diri di skala internasional untuk Indonesia. Jadi kelak ketika membutuhkan tempat mumpuni untuk kegiatan MICE atau konferensi, Belitung sudah terdaftar dan direkomendasikan pemerintah pusat menjadi lokasi MICE," tuturnya. (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari).

Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved