Opini

AS Hanandjoeddin dalam Ruang Historiografi Kepahlawanan Indonesia

AS Hanandjoeddin harus dilihat dengan cara pandang historiografi berbeda agar eksistensinya dapat disejajarkan dengan pahlawan nasional.

Editor: Fitriadi
Posbelitung.co/BryanBimantoro
Patung H. AS Hanandjoeddin yang berada di areal Bandara H. AS Hanandjoeddin, Tanjungpandan, Belitung. 

Oleh: Bambang Purwanto - Profesor Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

DALAM konteks narasi nasional sejarah Indonesia, Pulau Belitung atau Belitong dapat dikategorikan sebagai wilayah yang ditinggalkan dalam penulisan sejarah Indonesia.

Fakta-fakta sejarah Belitung sangat sulit ditemukan, kalau tidak mau disebutkan tidak ada sama sekali yang diakomodasi sebagai kenyataan dari sejarah Indonesia.

Beberapa karya akademis tentang Belitung yang ditulis baik oleh sejarawan Indonesia maupun asing, lebih dimaknai sebagai sejarah lokal daripada sejarah nasional atau sejarah Indonesia di tingkat lokal.

Keberadaan NV. Billiton Maatschappij dan kemudian BUMN Timah sebagai salah satu perusahaan penting baik dalam konteks ekonomi Hindia Belanda maupun Republik Indonesia, tidak serta-merta membuat Belitung masuk dalam ruang sejarah Indonesia.

Dalam historiografi Indonesia, sejarah industri timah di Indonesia seakan-akan cukup diwakili oleh eksplorasi timah di Pulau Bangka. Padahal BHP Billiton yang merupakan salah satu perusahaan pertambangan raksasa dunia saat ini yang bermarkas di Australia, secara historis memiliki hubungan dengan sejarah Belitung sejak 1851, dan diikuti dengan operasionalisasi NV. Billiton Maatschappij dalam pertambangan timah di Belitung pada 1860.

Di negeri Belitung inilah, seorang figur biasa tetapi memberi sumbangan sangat penting dalam perkembangan awal Angkatan Udara Republik Indonesia dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilahirkan pada 5 Agustus 1910. Dia adalah Hanan bin Mohammad Djoeddin, atau Hanandjoeddin.

Eksklusi dan identitas imajiner

Eksklusi dan marginalisasi Belitung dalam ruang sejarah Indonesia, juga tidak dapat diisi oleh kenyataan historis dari keberadaan tokoh-tokoh nasional yang berasal dari Belitung.

Kiprah nyata Achmad Aidit atau Dipa Nusantara Aidit, Yusril Ihza Mahendra dan terakhir Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam ruang politik nasional, tidak begitu saja menempatkan Belitung menjadi bagian dari fakta sejarah Indonesia kontemporer.

Bahkan di buku babon sejarah Indonesia terkini Indonesia Dalam Arus Sejarah yang dipublikasikan pada 2012, kata Belitung tidak ditemukan dalam faktaneka dan indeks. Belitung bersama-sama Bangka hanya diwakili oleh satu indeks yaitu Banka en Billiton Tin Maatschappij.

Dalam perkembangannya, kehadiran Belitung dalam ruang Indonesia bersifat sungsang, ketika Belitung hadir dalam ruang geososiologis Indonesia melalui karya sastra Andrea Hirata.

Laskar Pelangi yang diciptakan oleh Andrea Hirata sebagai imajinasi literer, secara objektif harus diakui sebagai penyebab utama kalau tidak mau disebut satu-satunya sebab dari hadirnya Belitung dalam kekinian sistem pengetahuan bangsa Indonesia.

Belitung terutama Kabupaten Belitung Timur mengajukan klaim dirinya sebagai Negeri Laskar Pelangi, identitas baru imajiner yang terbentuk dari imajinasi sastra yang memanfaatkan kenyataan sejarah.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved