Berita Belitung Timur

Harga Pertamax Rp16.650 per Liter, Lajur Nonsubsidi di SPBU Padang Mulai Sepi

Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat Belitung Timur....

Tayang:
Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha/Kautsar Fakhri Nugraha
SEPI - Suasana sepi tanpa antrean kendaraan terlihat di jalur pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 24.334.138 Desa Padang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Rabu (10/6/2026). Setelah Pertamax naik di angka Rp16.650 per liter, sebagian besar konsumen kendaraan roda dua di wilayah Manggar kedapatan mulai beralih mengantre ke lajur BBM bersubsidi jenis Pertalite demi efisiensi pengeluaran harian. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax menjadi Rp16.650 per liter mulai memengaruhi perilaku konsumen di Kabupaten Belitung Timur. Kondisi tersebut terlihat di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 24.334.138 Desa Padang, Kecamatan Manggar, Rabu (10/6/2026).

Sejak pagi hingga siang hari, lajur pengisian BBM nonsubsidi jenis Pertamax tampak jauh lebih lengang dibanding biasanya. Hanya beberapa kendaraan roda empat yang terlihat mengisi bahan bakar, sementara lajur BBM bersubsidi tetap ramai melayani konsumen.

Pengelola SPBU 24.334.138 Desa Padang, Jumhari, membenarkan bahwa harga Pertamax resmi mengalami penyesuaian mulai hari ini.

"Untuk hari ini, memang ada kenaikan harga Pertamax yang cukup signifikan, dari yang semula Rp12.600 kini disesuaikan menjadi Rp16.650 per liternya," ujar Jumhari.

Jumhari menjelaskan bahwa perubahan harga langsung diberlakukan oleh pihak SPBU begitu instruksi resmi dari Pertamina turun.

Meski tidak ada keluhan langsung dari konsumen kepada SPBU, lonjakan harga ini diakui Jumhari berdampak pada konsumsi masyarakat Manggar.

Jumhari mencatat, efek kejut dari kenaikan tarif ini membuat volume kendaraan yang bersedia mengonsumsi Pertamax di SPBU Padang menurun drastis dan cenderung sepi peminat.

Jumhari mengatakan masyarakat yang biasanya memanfaatkan jalur Pertamax untuk menghindari antrean panjang, kini diprediksi mulai memilih untuk kembali mengantre di lajur Pertalite demi menghemat.

"Kalau untuk cek volume pasti penurunannya belum kami rekap, tapi secara kasat mata kelihatan tetap kurang pembelinya. Biasanya kan pemotor yang malas antre panjang langsung lari ke Pertamax, sekarang lajur Pertamax-nya tidak ada motor sama sekali. Mereka beralih mengantre ke Pertalite," jelasnya.

Jumhari menambahkan, selisih harga yang kini terpaut jauh mencapai Rp6.650 per liter dibanding Pertalite (Rp10.000/liter) secara membuat pengendara rela mengatri lebih lama di jalur subsidi.

"Konsumen sekarang kan hitung-hitungan pengeluaran harian, Pak. Kalau selisihnya sudah di atas enam ribu per liter, bagi pengendara motor itu mending dipakai mengantre agak lama di Pertalite karena sisa uangnya lumayan," ucapnya.

Padahal menurut Jumhari, saat harga Pertamax masih bertengger di angka Rp12.600 per liter pada waktu sebelumnya, minat pemilik kendaraan roda dua di Manggar untuk membeli BBM nonsubsidi ini tergolong masih cukup tinggi.

Kini, lajur pengisian Pertamax diprediksi hanya akan diisi oleh para pemilik kendaraan yang memang benar-benar membutuhkan spesifikasi BBM RON 92 tersebut.

Jumhari pun berharap gejolak harga ini dapat segera diadaptasi tanpa memicu kepanikan, serta memastikan seluruh fasilitas pelayanan pengisian di lapangan tetap berjalan optimal bagi seluruh konsumen. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved