Berita Belitung

Agroforestri Bisa Jadi Solusi dalam Menanggulangi Lahan Kritis di Pulau Belitung

Dalam sistem tanam agroforestri atau wanatani, jarak tanaman diatur sehingga memberi manfaat yang maksimal.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Novita
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Manager Rikolto Indonesia, Surya Meihdhy Basri, dan Ketua KPLPB Belitung Timur, Teblyandi, hadir di Dialog Ruang Kita Pos Belitung bersama host Disana Aryandi, Rabu (11/3/2022). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Manager Rikolto Indonesia, Surya Meihdhy Basri, mengatakan, jika dibandingkan 30 tahun lalu, kondisi lingkungan hidup Pulau Belitung mengalami penurunan signifikan.

Sekitar 60 persen daratan dikategorikan lahan kritis, ada yang termasuk sangat kritis, kritis, potensi kritis atau menuju kritis. Satu di antara cara menanggulanginya melalui agroforestri.

Hadir dalam Dialog Ruang Kita Pos Belitung bertajuk Pemuda dan Lingkungan Hidup — Kontribusi Menjamin Masa Depan Lingkungan Hidup di Pulau Belitung: Kegiatan Restorasi Berbasis Agroforestri, ia menyampaikan bahwa agroforestri merupakan kegiatan pertanian yang meniru nilai-nilai baik dari hutan. Apalagi fungsi hutan ada banyak, di antaranya meregulasi air, suhu udara, dan biodiversitas.

"Sebenarnya agroforestri dekat dengan orang Belitung, karena punya ume atau kebun. Di ume tidak hanya satu tanaman, dari tanaman jangka pendek sampai tanaman jangka panjang. Yang kami maksud di sini adalah agroforestri yang lebih tertata. Artinya tanaman satu dengan yang lain saling menguntungkan," jelasnya, Rabu (11/5/2022).

Dalam sistem tanam agroforestri atau wanatani, jarak tanaman diatur sehingga memberi manfaat yang maksimal. Berbagai jenis tanaman mulai dari tanaman kanopi tinggi, sedang, rendah, sampai tanaman cover, dapat saling bersimbiosis meniru kondisi hutan.

"Kami juga melakukan studi kelayakan, melihat lahan petani di Belitung Timur, tanya tanaman yang cocok," kata Surya.

Menurutnya, dalam hal ini petani menjadi garda terdepan mempertahankan kondisi lingkungan. Surya menambahkan, agroforestri ini di antaranya dikembangkan oleh petani kopi di Gayo.

Selain menanam kopi, mereka juga menanam tanaman kanopi, yakni pohon lamtoro. Pohon lamtoro yang menjulang dapat meneduhkan batang-batang kopi. Tak hanya itu, daun lamtoro juga dapat menjadi pupuk untuk tumbuhan kopi.

"Selain memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan, juga menjadi tempat bagi lebah dan hewan lainnya," sebutnya..

Senada dengan itu, Ketua Koalisi Pegiat Lingkungan Pulau Belitung (KPLPB) Belitung Timur, Teblyandi, mengatakan, program agroforestri ini telah berjalan 1,5 tahun dengan menggandeng petani di Desa Mempaya dan Desa Selinsing.

Melibatkan sebanyak 35 petani di masing-masing desa, program tersebut merupakan kerja sama dengan perusahaan Perancis.

"Program 2021 itu kami menanam buah alpukat, durian, jambu mete, juga kayu. Karena model project di Beltim ini ada formasi penanaman, misalnya dalam satu hektare 60:40, 60 persen tanaman buah, 40 persen tanaman kayu supaya ada keberagaman dan meniru hutan," kata Teblyandi.

"Perusahaan ini akan memberikan support bibit dan pupuk gratis, kami mendampingi mereka mensosialisasikan program mereka, sekalian belajar. Tidak hanya itu, kami juga bertanggung jawab pohon itu hidup atau sampai memberikan manfaat. Petani mendapat manfaat insentif dan manfaat dari pohonnya," imbuhnya.

Sebagai pegiat lingkungan, ia menyebut bahwa KPLPB merupakan orang-orang yang tergabung karena tergerak dari isu lingkungan yang sudah masuk tahap urgen namun belum begitu diperhatikan.

"Kami pengen mengajak anak-anak muda yang masih punya energi lebih untuk dari sekarang mulai peduli kondisi lingkungan," tutur Teblyandi.

Selengkapnya mengenai kegiatan restorasi berbasis agroforestri hingga semangat keduanya dalam upaya kepedulian lingkungan, dapat disaksikan melalui laman Facebook dan YouTube Pos Belitung. ( Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved