Berita Belitung
Proyek Miliaran Embung Batu Mentas Segera Operasional, Mampu Pasok Delapan Ribu Pelanggan
Direktur Perusahaan Umum Daerah Tirta Batu Mentas Badia Parulian mengatakan, Embung Batu Mentas akan segera dioperasikan agar bisa menjadi sumber air
Penulis: Adelina Nurmalitasari |
POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Direktur Perusahaan Umum Daerah Tirta Batu Mentas Badia Parulian mengatakan, Embung Batu Mentas akan segera dioperasikan agar bisa menjadi sumber air baku bagi masyarakat Belitung.
Proses pembangunan embung, termasuk penanaman pipa. Pembangunan water treatment plant (WTP) atau instalasi pengolahan air (IPA) sudah rampung dengan nilai proyek sekitar Rp75 miliar. SDM yang akan mengoperasionalkan pun sudah menjalani pendidikan dan pelatihan.
"SDM sudah diklat, kami berharap dalam satu dua pekan sudah ada titik terang, harapan saya paling lama awal Juli sudah ada aliran. Tinggal pemasangan listrik di embung, kalau WTP listrik dan mesin sudah oke," katanya, saat berada di Program Dialog Ruang Kita Pos Belitung, Senin (13/6/2022).
Badia menjelaskan, embung ini memiliki kapasitas menyalurkan air hingga 100 liter per detik, sehingga bisa digunakan 8 ribu pelanggan rumah tangga, selain hotel, rumah sakit, dan perkantoran.
Meski bisa memulai operasional pada awal Juli, menurutnya memang ada masa pemeliharaan satu tahun. Setelah operasional berjalan, masih ada ada kendala seperti kebocoran kecil pada pipa. Hal tersebut lantaran instalasi pipa baru terkoneksi dengan pipa lama.
"Karena pipa yang dipasang sekarang HDPE, sementara jaringan masih ada asbes. Jika sudah operasional ada saja pipa lama yang bocor karena tidak kuat. Pipa yang sekarang dibangun baru, dikoneksikan dengan pipa yang sudah dibangun 40 tahun lalu," katanya.
"Memang kami minta itu supaya pipa baru terkoneksi dengan pipa lama sehingga semua sumber air Batu Mentas, masyarakat sumber airnya sama," sambung Badia.
Sementara tiga sumber air baku sebelumnya yang berada di Air Serkuk, Dukong, dan Perawas akan digunakan sebagai cadangan untuk menanggulangi saat terjadi masalah di di sumber air baku di Embung Batu Mentas.
Ia menambahkan, saat ini pihaknya berharap konsultan menyelesaikan perhitungan detailed engineering design (DED) untuk mendapat bantuan jaringan penunjang pipa utama ke masyarakat dari anggaran pemerintah provinsi.
"Kalau tidak ada halangan, Juli sudah lelang, Agustus sudah pembangunan jaringan. Kalau tidak ada pergeseran, kita dapat anggaran Rp6,76 miliar untuk pembangunan jaringan sekunder untuk tahun 2022," ucapnya
Aktivitas Tambang di Kolong Air Baku
Dalam Program Dialog Ruang Kita Pos Belitung bertajuk Kondisi PDAM Belitung hingga Embung Batu Mentas, Badia Parulian menyampaikan bahwa aktivitas penambang ilegal menyebabkan air yang disalurkan ke masyarakat menjadi keruh. Gangguan ini terutama terjadi bagi pelanggan yang menerima aliran dari sumber air baku Air Serkuk.
Akibat aktivitas penambang egal ini, sistem pengolahan air menelan biaya besar dan sistem pengolahan yang panjang. Proses penjernihan air agar kembali normal pun memerlukan waktu sampai enam bulan.
"Sistem pengolahan air enam bulan tidak bisa beres karena bercampur lumpur. Partikel (lumpur) itu sulit dipisahkan sehingga pengolahan kami yang semula menggunakan sekilo bahan (penjernih air), bisa lima kali lipat, itu pun belum bisa kualitasnya jadi bagus, karena partikel tambang sangat mengikat menjadi lumpur halus dalam air," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20220613-Direktur-Perumda-Tirta-Batu-dan-Host-Dialog-Ruang-Kita-Pos-Belitung-Disa-Aryandi.jpg)