Wisata Belitung
Wisata Belitung: Mengenal Batu Satam Khas Belitung, Salah Satu Batu Langka di Dunia
Batu satam atau billitonite merupakan tektites khas dari belitung. Batu satam merupakan unsur langka yang perlu diakui sebagai warisan geologis.
Menurut pengrajin batu satam hitam, Syarifudin alias Udin mengatakan, yang menjadi daya tarik dari batu satam ini adalah umur bebatuannya yang terlibang cukup tua dibandingkan bebatuan biasa.
"Yang paling unik itu pada umur satam itu sendiri," ucap Udin kepada Pos Belitung, beberapa waktu lalu.
"Selain itu memang batu jenis ini juga terbilang cukup langka dan tidak ada di daerah lain. Point pentingnya memang umur satam," tambah Udin.
Geologis Lulusan The Camborne School of Mines, University of Exeter, United Kingdom, Veri Yadi mengungkapkan tektite Belitung yang dikenal sebagai billitonite atau batu satam, berasal dari pecahan meteor yang terjadi sekitar 709‑770 ribu tahun lalu (Rtl) dan termasuk dalam Australian Strewn Field.
Bentuknya seperti kaca atau obsidian, namun mempunyai perbedaan dengan obsidian hasil proses vulkanik dalam hal komposisi kimia dan petrografinya.
Tektite ini tersebar di Australia, Indonesia, (Borneo, Jawa, dan Belitung), Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Laos, termasuk Thailand, Cina Selatan, dan Filipina.
Ditemukan pada endapan alluvial kuarter di timur Belitung, di mana sering ditemukan oleh penambang timah karena keterdapatannya bersamaan kehadiran kaksa (zona bijih timah).
Proses pengendapan aluvial Belitung pada 45‑55 Rtl membawa material berat,
seperti tektite yang telah tersebar di Belitung 700 ribu tahun lalu dan kasiterit (SnO2) yang mengendap secara bersamaan di atas zona batuan dasar yang disebut kaksa.
Batu satam biasanya ditemukan antara kedalaman 2 hingga 5 meter atau bersamaan keberadaan kaksa timah.
Ciri‑ciri umumnya yakni pejal (keras), tidak berongga, serta terdapat kandungan mineral bumi sangat sedikit dan miskin kandungan air (hampir kering).
Jika dikaitkan dengan timah, antara batu satam dan timah tidak memiliki hubungan apapun.
Karena batu satam adalah hasil pecahan meteor.
Di pasar lokal, batu billitonite yang lebih sering disebut penduduk Belitung dengan nama batu satam ini dijual dalam kisaran harga antara Rp170 ribu hingga jutaan rupiah per butirnya.
Nilai jual batu satam sangat bergantung dengan bentuk, ukuran dan teksturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/batu-satam_20170304_110810.jpg)