Berita Belitung

Asal Usul Kesenian Campak Belitung Diduga Berasal dari Vietnam

Meski kesenian ini juga ditemukan di Pulau Bangka, namun karakteristik campak di Pulau Belitung dan Pulau Bangka berbeda.

Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Foto bersama peserta Kelakar Seniman dan Budayawan Belitong di Gedung Nasional, Rabu (9/11/2022). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Campak menjadi satu di antara kesenian tradisional Belitung yang masih eksis.

Namun rupanya, seni berbalas pantun dengan iringan musik dan gerakan tarian sederhana ini, dulunya sempat dianggap hiburan yang berkonotasi negatif.

Dalam acara Kelakar Seniman dan Budayawan Belitung di Gedung Nasional Tanjungpandan, Rabu (9/11/2022), muncul topik menarik yang membahas asal seni campak hingga dugaan kesenian ini berasal dari Vietnam.

Hanya ada tiga alat musik yang mengiringi campak. Gendang panjang, tawang-tawang, dan piul atau biola. Kesenian campak yang kini banyak disaksikan masyarakat sudah dimodernisasi atau diistilahkan sebagai campak dangdut.

"Aku tanya ke mereka (pelaku seni campak dangdut), kenapa campak dangdut? Katanya, kalau hanya be campak tidak ada yang menonton. Makanya dibuatlah 15 menit be campak, 15 menit bernyanyi dangdut. Maka dinamakan campak dangdut," kata Sejarawan Belitung, Salim YAH.

Meski kesenian ini juga ditemukan di Pulau Bangka, namun karakteristik campak di Pulau Belitung dan Pulau Bangka berbeda. Perbedaan utamanya terdengar dari lantunan musik dan irama pantun.

Seni campak sempat berkomunikasi negatif dan dianggap sebagai kesenian erotis.

Lantaran pakaian yang dikenakan campak atau pelaku seni tak seperti baju kebanyakan yang dikenakan perempuan Belitung pada masanya yang mengenakan kain dan kebaya.

Menurut Pemerhati Budaya Belitung Rahini Ridwan, gambaran negatif ini masih terjadi sekitar tahun 1960-an.

Saat itu, pertunjukan campak berlangsung di atas tanah lapang di halaman rumah. Tikar dibentangkan di halaman sebagai alas untuk area penari campak beratraksi.

Kiri-kanan tikar diisi bangku-bangku untuk meletakkan tawang-tawang, alat musik menyerupai gong namun berukuran sedang. Hanya tiga alat musik yang digunakan, tawang-tawang, gendang panjang, dan piul.

Selain sebagai kesenian, penyebutan campak juga merujuk pada perempuan yang menari dan berbalas pantun. Dulunya dalam satu penampilan, bisa ada satu, dua atau tiga campak.

Mereka menari di atas alas tikar diterangi lampu petromak. Sementara para penonton mengelilingi area sekitar tikar.

"Bujang-dayang nonton. Kalau ibu-ibu muda, marah nonton campak, tidak terlalu suka, karena pakaian campak sudah dianggap erotis," katanya.

Campak kala itu menari mengenakan baju terusan selutut dengan bagian atas dada terbuka, kaos kaki panjang, juga menggunakan riasan tebal dan rambut dikeriting. Tampilan ini dianggap menjadi ancaman karena bisa membuat para pria tergila-gila.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved