Berita Belitung Timur

Filosofi Burung Terkandung di Kater Nelayan Pantai Serdang

Satu kater terbuat dari sebatang kayu gelondongan utuh. Kemudian dipahat dan ditambahkan penyeimbang di kiri kanan kapal berupa bambu.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Kamri
Posbelitung.co/Bryan Bimantoro
Perahu kater milik nelayan di Pantai Serdang, Manggar 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG TIMUR - Pengunjung atau wisatawan yang berkunjung ke Pantai Serdang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, bakal mendapat suguhan pemandangan deretan perahu tradisional nelayan setempat.

Perahu itu dinamakan kater oleh masyarakat sekitar. Kater dalam bahasa yang lebih populer juga dikenal sebagai kapal cadik yang berasal dari Bawean.

Satu kater terbuat dari sebatang kayu gelondongan utuh. Kemudian dipahat dan ditambahkan penyeimbang di kiri kanan kapal berupa bambu.

Meski berasal dari Bawean, kapal jenis ini justru masih banyak digunakan oleh suku Bugis dan Melayu di Belitung.

Di Pantai Serdang misalnya, ada sekitar 381 kater. Jumlah kater milik nelayan di pantai ini juga terus bertambah.

Bentuk kater tidak banyak berubah. Hanya saja dulunya, kater menggunakan layar karena memanfaatkan tenaga angin.

Sedangkan saat ini, nelayan setempat telah menggantikan layar dengan mesin sebagai tenaga penggerak kater.

Ada yang menarik dari perahu tradisional ini. Di bagian depan kater, terdapat ornamen burung.

Secara fungsi, ornamen ini digunakan oleh nelayan sebagai tempat menyangkutkan nilon saat mereka memancing.

Namun secara filosofi, ada makna yang hendak disampaikan. Burung dipercaya sebagai hewan penakluk angin yang menjadi tenaga penggerak kater.

Bentuk burung di depan kater ini pun masih dipertahankan hingga kini.

Wisatawan yang berkunjung ke Manggar, ada baiknya berkunjung ke Pantai Serdang.

Melihat-lihat keberadaan kater. Jikapun ingin merasakannya, ada paket wisata yang ditawarkan.

Bagi pengunjung yang ingin merasakan Kater Cruise di Pantai Serdang, paket wisata ini dibanderol Rp150 ribu per kater.

Paket wisata ini bisa dipesan langsung di Galeri Tanjung Seloekat yang menjadi sekretariat pokdarwis.

Puas berlayar menggunakan kater dan telah memarkirkannya di tempat semula, pengunjung juga dapat menikmati kuliner khas di Galeri Tanjung Seloekat.

Lokasinya masih berada di area Pantai Serdang. Paket kuliner yang ditawarkan murah meriah. Ada menu gangan, makanan khas Belitung.

Ada menu khusus yang hanya bisa dinikmati saat musim tertentu. Namanya Guring Peretut.

Menu ini diolah dari ikan kerisi yang ditangkap oleh nelayan kater atau disebut kerisi kater.

Bahan utama kerisi kater ini hanya bisa dinikmati saat nelayan kater turun melaut dan memperoleh kerisi kater.

Sengaja menu ini hanya dimasak dengan kerisi kater karena ikannya lebih segar sehingga nikmat digoreng dan disantap dengan kulitnya.

Pantai paling timur di Pulau Belitung ini juga menawarkan paket kater cruise melintasi muara lama sambil menyaksikan sunrise atau matahari terbit.

Momen terbaik berburu sunrise dari atas kater yakni pukul 05.00-05.30 WIB.

Bagi mereka yang hobi memancing juga tak boleh melewatkan sensasi memancing dari kapal kater ke spot memancing yang berjarak sekitar dua mil dari Pantai Serdang.

Dalam perjalanan wisata awal Januari 2023 lalu, Pokdarwis Serdang Berantai menemani kami menjajal Kater Cruise.

Perjalanan menyusuri jalur tangker kapal minyak. Di garis pantai, jajaran kater berwarna warni cerah menghiasi.

Pemandangan ini memang menjadi daya tarik Pantai Serdang sejak lama.

Satu kater bisa memuat 3-6 orang, bergantung ukurannya. Saat mesin dinyalakan, kater berlayar melintasi jalur tangker kapal minyak.

Di jalur inilah dulunya kapal minyak masuk ke Belitung Timur dari Jembatan Olivier atau masyarakat lokal menyebutnya sebagai Jeramba Olivier.

Ketua Pokdarwis Serdang Berantai, Toto Iswanto mengemukakan ada kisah rakyat menarik mengenai Jeramba Olivier.

Secara bahasa, olivier tersusun dari oli atau minyak dan vier yang berarti jembatan.

Namun masyarakat setempat menganggap Olivier yakni Olivia dan Vernandes.

Ada kepercayaan warga setempat, jika gerimis atau hujan bukan musimnya karena ada kapal besar masuk.

"Dikatakan mitos iya, cerita rakyat iya, aku pun mengalami, ketika ada kapal besar masuk, hujan," cerita Toto.

Kisahnya, Olivia ini menunggu suaminya yang merantau menggunakan kapal tangker dan ia mengharapkan kedatangannya.

Namun saat tidak ada, ia akan menangis. Sampai akhir hayatnya, Olivia pun tak kunjung bertemu dengan Vernandes.

Hujan atau gerimis di pantai ketika ada kapal-kapal besar yang melintas pun dipercaya sebagai air mata Olivia yang masih menunggu Vernandes.

Ditemani cerita rakyat sambil kater cruise di lepas Pantai Serdang akan menjadi momen terbaik.

Waktu terbaik menikmati kater di pantai ini saat sore hari karena cuaca yang tidak begitu panas.
(Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

 

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved