Berita Bangka Barat

Mahasiswa Babel Ini Rasakan Masa Mencekam saat Perang Sudan Pecah, Rudal Melintas di Atap Rumah

Jarak pertempuran antara tentara Sudan dan Paramiliter Rappid Support Forces (RSF) itu cukup dekat dari kontrakan Gibran di Arkaweet Sudan.

Tayang:
Editor: Novita
IST/Dokumentasi Pribadi
Gibran Ibastanta, mahasiswa Universitas Internasional Afrika Khartoum, Sudan, asal Tempilang, Kabupaten Bangka Barat. 

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) melalui Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) sigap dengan menyediakan sejumlah makanan dan minuman setiap hari.

Tak jarang pula, makanan dan minuman itu harus diambil sendiri. Di tengah situasi yang sedang tidak baik-baik saja, Gibran dan kawan-kawan harus berani ke luar rumah.

Jika tak keluar, tak ada stok makanan untuk bertahan hidup.

"Pernah minum air keran dan makan mi. Kami makan seadanya, bersyukur ada KBRI dan PPI," sebut Gibran.

Sebagai mahasiswa, Gibran sebenarnya mengetahui perang saudara ini merupakan konflik berkepanjangan yang tak kunjung usai.

Namun demikian, dia tak menyangka konflik kali ini benar-benar membuat situasi Sudan mencekam.

Tak ada yang bisa dilakukan kecuali bertahan hidup menunggu pertolongan.

Berhari-hari dalam situasi menakutkan, Gibran dan kawan-kawan hanya berdoa berharap bantuan segera datang.

Setelah beberapa hari, pertolongan pun tiba. Sejumlah mahasiswa Indonesia dievakuasi, termasuk Gibran.

"Sekitar 12 hari. Baru kita dibagi menjadi beberapa kloter dievakuasi. Saya tiga hari di Jeddah. Tapi ada kloter temen-temen lain yang harus muter dulu dari Jeddah, Oman, Mumbai, Aceh, baru ke Jakarta karena naik pesawat TNI AU. Alhamdulilah, saya langsung Jeddah-Jakarta," tutur Gibran.

Tak banyak yang bisa dibawa Gibran saat proses evakuasi. Barang-barang berharga termasuk kitab terpaksa harus ditinggalkan.

Tiga helai baju, ijazah, paspor dan satu laptop adalah barang yang bisa diselamatkan. Meski demikian, Gibran masih berharap bisa kembali dan menyelesaikan pendidikannya yang tersisa satu tahun lagi jika konflik sudah selesai.

"Insyaallah balik lagi kalau konfliknya selesai. Ada banyak pengorbanan yang sudah dilewati (Sudan)," ujar Gibran.

Saat ini Gibran sudah berada di Jakarta. Rencananya, sesuai jadwal akan tiba di Bandara Depati Amir Pangkalpinang, Selasa (2/5/2023) sore.

Karena masih berstatus mahasiswa dan belum tahu rencana ke depan seperti apa, Gibran ingin bertemu dan berdiskusi dengan pemerintah daerah.

"Ini lagi beli baju (Jakarta). Besok sore ke Bangka. Semoga ada solusi dari pemerintah," harap Gibran. (Bangkapos.com/Edy Yusmanto)

Sumber: Bangka Pos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved