Berita Bangka Barat
Mahasiswa Babel Ini Rasakan Masa Mencekam saat Perang Sudan Pecah, Rudal Melintas di Atap Rumah
Jarak pertempuran antara tentara Sudan dan Paramiliter Rappid Support Forces (RSF) itu cukup dekat dari kontrakan Gibran di Arkaweet Sudan.
POSBELITUNG.CO, BANGKA - Perang saudara melanda Sudan. Ratusan orang tewas sejak pertama pertempuran pecah pada 15 April 2023 lalu.
Kondisi perang tersebut berdampak bagi warga negara asing yang tinggal di negara tersebut. Tak terkecuali warga negara Indonesia.
Pemerintah Indonesia pun telah mengevakuasi ratusan WNI dari Sudan. Satu di antaranya adalah Gibran Ibastanta, mahasiswa asal Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Ia tak henti-hentinya bersyukur setelah berhasil mendarat di Jakarta, Indonesia.
Mahasiswa yang menempuh pendidikan di Universitas Internasional Afrika Khartoum, Sudan ini, turut merasakan masa-masa mencekam ketika perang saudara Sudan pecah lagi pada 15 April 2023 lalu.
Jarak pertempuran antara tentara Sudan dan Paramiliter Rappid Support Forces (RSF) itu cukup dekat dari kontrakan Gibran di Arkaweet Sudan.
Kepanikan dan ketakutan pun tak terelakkan hingga membuat suasana benar-benar menakutkan.
Desing peluru tak henti terdengar setiap hari. Rudal melintas di atap rumah hingga membuat rumah bergetar.
Mahasiswa Jurusan Hadist yang telah menempuh semester IV ini tak bisa berbuat banyak. Bersama rekan-rekan mahasiswa Indonesia lain, Gibran hanya saling menguatkan.
"Waktu itu ada di rumah. Tembakan terdengar jelas, rudal di atas rumah. Rumah bergetar. Alhamdulilah, bom secara langsung (terlihat karena dekat jaraknya)," kata Gibran saat dihubungi Bangka Pos via telepon, Senin (1/5/2023).
Gibran menjadi mahasiswa Universitas Internasional Afrika karena mendapatkan beasiswa dari Pondok Pesantren Daar el-Qolam di Tangerang.
Perang saudara itu benar-benar menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Gibran. Berhari-hari dalam tekanan fisik dan mental karena takut menjadi korban perang.
Tak diizinkan ke luar rumah hingga sempat kebingungan memenuhi kebutuhan makan dan minum mewarnai keseharian.
Sebelum perang, masyarakat Sudan biasa menyediakan makanan di depan rumah selama Ramadhan.
Ketika perang pecah, warga ketakutan dan memilih berdiam diri di rumah serta menghentikan semua kegiatan.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) melalui Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) sigap dengan menyediakan sejumlah makanan dan minuman setiap hari.
Tak jarang pula, makanan dan minuman itu harus diambil sendiri. Di tengah situasi yang sedang tidak baik-baik saja, Gibran dan kawan-kawan harus berani ke luar rumah.
Jika tak keluar, tak ada stok makanan untuk bertahan hidup.
"Pernah minum air keran dan makan mi. Kami makan seadanya, bersyukur ada KBRI dan PPI," sebut Gibran.
Sebagai mahasiswa, Gibran sebenarnya mengetahui perang saudara ini merupakan konflik berkepanjangan yang tak kunjung usai.
Namun demikian, dia tak menyangka konflik kali ini benar-benar membuat situasi Sudan mencekam.
Tak ada yang bisa dilakukan kecuali bertahan hidup menunggu pertolongan.
Berhari-hari dalam situasi menakutkan, Gibran dan kawan-kawan hanya berdoa berharap bantuan segera datang.
Setelah beberapa hari, pertolongan pun tiba. Sejumlah mahasiswa Indonesia dievakuasi, termasuk Gibran.
"Sekitar 12 hari. Baru kita dibagi menjadi beberapa kloter dievakuasi. Saya tiga hari di Jeddah. Tapi ada kloter temen-temen lain yang harus muter dulu dari Jeddah, Oman, Mumbai, Aceh, baru ke Jakarta karena naik pesawat TNI AU. Alhamdulilah, saya langsung Jeddah-Jakarta," tutur Gibran.
Tak banyak yang bisa dibawa Gibran saat proses evakuasi. Barang-barang berharga termasuk kitab terpaksa harus ditinggalkan.
Tiga helai baju, ijazah, paspor dan satu laptop adalah barang yang bisa diselamatkan. Meski demikian, Gibran masih berharap bisa kembali dan menyelesaikan pendidikannya yang tersisa satu tahun lagi jika konflik sudah selesai.
"Insyaallah balik lagi kalau konfliknya selesai. Ada banyak pengorbanan yang sudah dilewati (Sudan)," ujar Gibran.
Saat ini Gibran sudah berada di Jakarta. Rencananya, sesuai jadwal akan tiba di Bandara Depati Amir Pangkalpinang, Selasa (2/5/2023) sore.
Karena masih berstatus mahasiswa dan belum tahu rencana ke depan seperti apa, Gibran ingin bertemu dan berdiskusi dengan pemerintah daerah.
"Ini lagi beli baju (Jakarta). Besok sore ke Bangka. Semoga ada solusi dari pemerintah," harap Gibran. (Bangkapos.com/Edy Yusmanto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20230502-Gibran-Ibastanta-Mahasiswa-Universitas-Internasional-Afrika-Khartoum-Sudan-Asal-Babar.jpg)