Berita Pangkalpinang

Manisnya Bisnis Angkringan di Kota Pangkalpinang, Pelaku Usaha Raup Cuan Puluhan Juta per Bulan

Sisi trotoar di kawasan Museum PT Timah Tbk di Kota Pangkalpinang, kini dipenuhi gerobak khas angkringan saat sore hari.

|
Penulis: Sela Agustika | Editor: Novita
Bangkapos.com/Sela Agustika
Pengunjung menikmati kuliner khas angkringan di kawasan Museum PT Timah Tbk Pangkalpinang. 

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Sisi trotoar di kawasan Museum PT Timah Tbk di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kini dipenuhi gerobak khas angkringan saat sore hari.

Bahkan kawasan tersebut juga disebut-sebut oleh anak muda sebagai Yogyakarta-nya Kota Pangkalpinang.

Ketika sore hari, tepanya mulai pukul 18.00 WIB hingga 23.00 WIB, kawasan ini selalu diramaikan anak-anak muda yang nongkrong, sembari menikmati sajian makanan khas angkringan.

Angkringan menyajikan beragam menu dengan harga yang ramah di kantong, mulai dari Rp2 ribu per tusuk hingga Rp5 ribu per tusuk, tergantung dengan jenis yang dipilih.

Kini bisnis angkringan menjamur di Kota Pangkalpinang.

Pengunjung memilih menu khas angkringan di kawasan Museum PT Timah Tbk Pangkalpinang.
Pengunjung memilih menu khas angkringan di kawasan Museum PT Timah Tbk Pangkalpinang. (Bangkapos.com/Sela Agustika)

Satu di antara pemilik angkringan di kawasan Museum PT Timah Tbk, Dea, menuturkan, dirinya merintis usaha angkringan karena melihat minat konsumen yang banyak mengonsumsi makanan yang disajikan dalam bentuk sate-satean dan dibakar.

"Dominan peminat makanan angkringan ini anak muda, terus awalnya kita lihat belum sebanyak sekarang jadi tertarik untuk buka usaha ini," tutur Dea, Rabu (6/9/2023).

Dea mengakui, usaha angkringan yang digelutinya cukup menghasilkan cuan.

Namun dengan semakin banyaknya bermunculan usaha angkringan saat ini, ikut berdampak terhadap omzet yang didapatnya.

"Awal mulanya yang buka usaha angkringan di sini (kawasan Museum PT Timah Tbk, red) hanya sedikit. Terus sekarang mulai rame dan banyak. Tentunya dari segi omzet ada sedikit penurunan dibandingkan awal-awal dulu, karena namanya persaingan," imbuhnya.

Omzet puluhan juta

Angkirngan Mas Jendus yang sudah hadir sejak 2018 masih terus eksis dan diminati masyarakat.

Bahkan dalam satu hari kisaran 200 -300 tusuk sajian makanan khas angkringan Yogyakarta ini ludes terjual.

Pengunjung yang makan di angkringannya 70 persen didominasi anak muda, sisanya para orang tua.

"Alhamdulillah kalau kita enggak ada pengaruh dengan hadirnya angkringan-angkringan baru, terus peminatnya juga mulai dari kalangan anak muda, ada juga yang dewasa. Kira-kira omzet perbulan kita bisa mencapai Rp20 juta hingga Rp30 juta," kata Owner Mas Jendus, Aji Saputro.

Halaman
12
Sumber: Bangka Pos
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved