Berita Bangka Tengah

Ada 12 Kasus HIV di Bangka Tengah, Luna: Masuknya Arus Globalisasi

Akademisi sekaligus Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Luna Febriani mengulas soal kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Tayang:
Penulis: Ajie Gusti Prabowo |
Istimewa
Akademisi sekaligus Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Luna Febriani 

KOBA, POSBELITUNG.CO - Akademisi sekaligus Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Luna Febriani mengulas soal kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV). "Kemunculan fenomena HIV salah satunya tidak dapat dilepaskan dari arus globalisasi yang memungkinkan masuknya nilai-nilai luar dan baru dalam masyarakat Indonesia. Nilai-nilai dari luar ini mau tidak mau dapat memberikan warna baru bagi masyarakat hingga di sisi lain dapat merubah nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya yang kemudian berdampak pada perilaku individu dalam masyarakat. Salah satu nilai yang mengalami perubahan adalah nilai dan norma seksual," ujar Luna, Selasa (13/2).

Dalam budaya masyarakat Bangka Belitung sebelumnya, nilai dan norma seksual masih dipegang tinggi, beberapa di antaranya adalah heteroseksual, tidak boleh melakukan hubungan seksual sebelum menikah hingga komitmen pada satu pasangan dan lainnya. "Namun, seiring masuknya arus globalisasi, nilai-nilai dari luar itu masuk dan mau tidak mau berpengaruh terhadap nilai, norma dan perilaku masyarakat kita. Seperti munculnya fenomena seks bebas, gonta-ganti pasangan hingga perilaku seks sejenis. Konsekuensinya, selain berdampak pada perubahan sosial dalam masyarakat, ini juga berdampak pada persolan kesehatan, salah satunya adalah munculnya fenomena HIV di dalam masyarakat kita," jelasnya.

Menurutnya, fenomena HIV ini menjadi sangat unik terutama di era saat ini, karena bisa terjadi pada jenis kelamin, usia hingga kalangan profesi apa saja. "Dari data kelompok usia, data menunjukkan bahwa mayoritas pengidap HIV berasal dari usia 25-49 tahun sebesar 69,9 persen, diikuti kelompok usia 20-24 tahun sebanyak 16,1 persen serta usia di atas 50 tahun sebanyak 7,7 persen dan 15-19 tahun 3,4 persen hingga usia balita atau di atas 4 tahun sebanyak 1,9 persen dan usia 5-14 tahun," katanya.

Tidak dapat dipungkiri, fenomena orang dengan HIV ibarat fenomena gunung es, dengan kata lain yang tampak kepermukaan tidak mencerminkan realita yang ada. "Nah, masalahnya dari jumlah yang cukup besar tersebut, hanya sekitar 40 persen yang mendapatkan pengobatan. Mereka yang mendapatkan pengobatan HIV ini tentunya adalah orang-orang yang sudah melaporkan kejadian kepada pihak berwenang sehingga dapat melakukan pengobatan, nah bisa jadi yang di luar 40 persen itu adalah orang-orang yang tidak tahu dan tidak mau melaporkan kejadian yang mereka derita, sehingga tidak mendapatkan pengobatan," jelasnya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangka Tengah mencatat ada 12 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada tahun 2023. "Penderita HIV tahun 2022 sebanyak 13 kasus dan 2023 sebanyak 12 kasus. Dilihat dari jumlah kasus tersebut, tidak ada peningkatan kasus jumlah penderita," ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Bangka Tengah, Zaitun, Selasa (13/2).

Menurutnya, meski begitu tetap harus diwaspadai, sebab pola penemuan kasus HIV seperti fenomena gunung es. "Di mana jumlah yang terlaporkan terkadang tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Hal ini disebabkan adanya kekhawatiran terhadap perlakuan diskriminasi bagi penderita HIV, sehingga mereka memilih untuk tidak memeriksakan diri atau lebih memilih mendatangi faskes di luar wilayah agar tidak terdeteksi oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggal yang bersangkutan," katanya.

Ia menjelaskan, beberapa penyebab terpaparnya kasus HIV ini didominasi oleh perilaku seks bebas (free seks) dengan bergonta ganti pasangan. Diakuinya, perilaku menyimpang seperti Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) juga menjadi sorotan.

"Perilaku LGBT juga sangat berpengaruh terhadap penularan HIV jika tidak dilakukan pencegahan secara dini. Selain itu pengguna narkoba suntik juga menjadi salah satu faktor risiko tinggi penyebab tertularnya HIV. Penularan dari ibu hamil yang positif HIV ke anak di dalam kandungan juga berisiko tinggi jika tidak dilakukan penanganan sedini mungkin," pungkasnya. (s2)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved