Berita Bangka Tengah

215 Sapi di Bangka Tengah Terserang LSD, Pemkab Sebut Peternak Enggan Hewan Ternaknya Divaksin

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Tengah mencatat kasus  Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit lato-lato mengalami kenaikan signifikan.

Tayang:
Penulis: Ajie Gusti Prabowo | Editor: Novita
Bangkapos.com/Riki Pratama
Penyakit lato-lato kini mulai banyak menyerang hewan ternak, terutama sapi di Bangka Belitung, seperti halnya sejumlah kasus terjadi di Kabupaten Bangka Barat. 

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bangka Tengah mencatat kasus  Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit lato-lato mengalami kenaikan signifikan.

Pada tahun 2023, sebanyak 80 sapi terserang LSD. Sementara di tahun 2024,  terdapat sebanyak 215 sapi terserang LSD.

Ratusan sapi yang terserang LSD pada tahun ini meliputi 2 ekor di Koba, 37 ekor di Lubuk Besar, 92 ekor di Namang, 69 ekor di Pangkalan Baru, 8 ekor di Simpang Katis, dan 7 ekor di Sungaiselan.

Subkoordinator Kesehatan Hewan DPKP Bangka Tengah, drh Rahmawati mengatakan, terjadinya kenaikan kasus dikarenakan peternak enggan sapinya diberikan vaksin LSD.

"Karena banyaknya peternak yang tidak mau divaksin pada tahun 2023 dan petugas kami aktif dalam melakukan penyusuran penyakit sehingga banyak laporan. Kasus terbanyak terjadi di wilayah kecamatan yang pada tahun 2023 tidak aktif vaksinasi. sedangkan wilayah-wilayah yang tervaksin kasus cenderung menurun," jelasnya.

Dari ratusan kasus yang menyerang hewan ternak sapi, tak ada sapi yang mati dikarena LSD.

"Sejauh ini tidak ada kematian yang dilaporkan, tapi ada 1 ekor yang dipotong paksa pada tahun 2023 karena dianggap peternaknya sudah tidak tertolong," ujarnya.

Mengenai serangan LSD, pihaknya sudah melakukan penyembuhan hewan ternak, tersisa 34 ekor lagi dalam penyembuhan.

"Hampir semua sudah sembuh. Menangani ini kami sudah mengerahkan tim. Kami punya 3 puskeswan yang masing-masing membawahi 2 kecamatan. Di setiap wilayah kami punya 1 dokter hewan dan petugas lain," katanya.

Ia menjelaskan, pihak Pemprov tidak menargetkan berapa per kabupaten dan dari pusat juga tidak ada instruksi wajib vaksin.

"Tapi kami melakukan vaksin karena memang ingin wilayah Bangka Tengah tidak banyak kasusnya. Mengingat populasi ternak kami termasuk yang banyak di Babel. Sejak September 2023 sampai dengan 2024 ini hampir sekitar 3000 ekor yang tervaksin," jelasnya.

Nihil kasus

Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, memastikan seluruh hewan ternak yang ada di daerah tersebut masih aman dari wabah penyakit. Utamanya penyakit menular Lumpy Skin Disease (LSD) yang kerap menjangkit hewan ternak jenis sapi dan kerbau.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika bilang, sejauh ini belum ditemukan hewan ternak yang terpapar penyakit LSD.

Meski begitu, pihaknya tetap mewaspadai penyebarannya, apalagi menjelang Idulfitri 2024. Mengingat kebutuhan masyarakat akan daging sapi diperkirakan akan meningkat selama bulan Ramadan dan menjelang lebaran.

"Alhamdulillah sampai saat ini penyakit LSD pada hewan ternak belum ditemukan di Bangka Selatan," kata Risvandika di Toboali, Selasa (12/3).

Di sisi lain sambung dia, guna meminimalisir penyebaran LSD yang mulai marak di beberapa kabupaten di Bangka Belitung pihaknya terus gencar melakukan vaksinasi dan deteksi dini.

Selain itu, turut memberikan edukasi kepada peternak untuk menjaga kondisi tubuh ternak agar tetap sehat dengan mencukupi kebutuhan pakan dan menyediakan kandang yang nyaman bagi ternak.

Mengupayakan agar kandang dalam kondisi bersih, kering dan hangat. Menjaga kebersihan kandang dan lingkungannya, membersihkan sampah dan kotoran ternak setiap hari agar tidak menjadi sarang serangga pembawa virus penyebab LSD.

Kem,udian menyemprot kandang dengan antiserangga dan merendam ternak dalam larutan insektisida secara berkala, minimal satu bulan sekali.

"Agar sapi tidak digigit nyamuk, pada malam hari bisa dinyalakan api sekaligus membakar sisa-sisa makanan. Itu juga menjadi upaya antisipasi hewan ternak terpapar LSD," ucapnya.

Kendati penyakit ini tidak menular pada manusia kata Risvandika, peternak harus dapat memiliki pengetahuan tentang penyakit LSD. Pasalnya, faktor utamanya yang dirasakan peternak adalah kerugian disebabkan adanya penurunan berat badan. Pemerintah setempat telah menyediakan beberapa petugas kesehatan di sejumlah Puskeswan yang ada di setiap kecamatan. Masyarakat dituntut untuk aktif melapor, hal ini demi kebaikan bersama.

"Setelah lapor nantinya petugas akan mendatangi kandang ternak milik warga yang lapor tersebut. Untuk dilakukan pengecekan supaya cepat pulih, karena ketidaknormalan kesehatan hewan bisa saja terjadi disebabkan karena penyakit lain," pungkas Risvandika. 

NEWS ANALYSIS drh Correy Wahyu Adi Sulistyo, Dokter Hewan

Lumpy Skin Disease (LSD) ditularkan oleh serangga penghisap darah seperti lalat, nyamuk dan caplak.

Penyebarannya lewat serangga, sehingga ketika ada satu yang kena kemudian berdekatan dengan sapi yang lain itu mudah terkena, lewat gigitan.

Ia mengaku LSD mulai tahun 2024 banyak menyerang hewan ternak sapi. Tahun lalu LSD sudah ada tetapi tidak semasif tahun ini, LSD memang jadi tantangan saat ini. Pengobatan sudah dilakukan oleh DPKP di kabupaten kota.

Penyebab dari masifnya LSD di Bangka Tengah karena peterna enggan untuk melakukan vaksinasi LSD. Semoga ke depan lebih sadar, agar peternak mau melakukan vaksinasi LSD.

Secara morfologi, hewan ternak yang terserang LSD akan menimbulkan gejala benjolan di bagian kulitnya.

Sapi yang terserang penyakit lato-lato ini biasanya tidak nafsu makan, kurus dan menurunkan produktivitas hewan ternak.

Masyarakat jangan khawatir, sapi yang terkena LSD masih bisa dikonsumsi dan tidak membahayakan manusia.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah LSD semakin menyebar di Bangka Tengah.

Pertama, sapi itu harus dilakukan vaksin, diharapkan peternak mau untuk divaksin ketika ada petugas yang datang.

Kedua, mesti menghindari lalat di kandang, maka harus sering-sering membersihkan kandang, kalau ada kotoran segera dibuang.

Ketiga, penyemprotan desifektan di kandang sangat penting, kalau cara murahnya bisa pakai asam sitrat, itu dicampur air, karena virus tidak tahan asam, jadi bagus kalau disemprot itu.

(s2/u1)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved