Berita Pangkalpinang

Petani di Bangka Belitung Diminta Tak Meninggalkan Tanaman Lada

Fluktuasi harga lada putih menunjukkan tren positif dalam beberapa pekan terakhir, mencapai Rp100 ribu-Rp140 ribu per kilogram.

Penulis: Suhendri CC | Editor: Novita
IST/Dok Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian
Proses memanen lada atau sahang di kebun lada di Belitung, Sabtu (28/1/2023). 

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tarmin AB, berharap petani di Babel kembali bergairah menanam berbagai komoditas pertanian, termasuk lada.

Sebab, menurutnya, saat ini harga sejumlah komoditas pertanian sedang naik.

“Artinya, komoditas pertanian, termasuk lada, memang komoditas yang menjanjikan sebenarnya untuk masyarakat, khususnya kita di Bangka Belitung, yang terkenal dengan lada putih," kata Tarmin, Rabu (3/7/2024).

Terlebih, lanjut dia, fluktuasi harga lada putih menunjukkan tren positif dalam beberapa pekan terakhir, mencapai Rp100 ribu-Rp140 ribu per kilogram.

Namun, ia mengakui harga tersebut belum membuat para petani di Negeri Serumpun Sebalai tergiur untuk kembali menanam komoditas dengan label ”Muntok White Pepper”.

"Persoalan sekarang ini namanya lada tidak bisa kita harapkan dalam sebulan dua bulan. Persoalan masyarakat selalu begitu, kalau (harga) naik selalu berkeinginan naik, tetapi ketika sudah panen nanti mungkin harga mulai turun," ujar Tarmin.

Terlepas dari itu, ia meminta petani tidak meninggalkan budi daya tanaman lada.

“Lada putih saat ini di Bangka Belitung mulai tergerus oleh komoditas kelapa sawit sehingga produksi lada berkurang. Sehingga, apabila permintaan lada ini naik tinggi, produksinya berkurang, tentu berakibat pada (kenaikan) harga," tutur Tarmin.

Selain itu, kata dia, lada putih Babel atau Muntok White Pepper masih menjadi komoditas yang banyak diminati. "Lada ini primadona,” ucap Tarmin.

“Tinggal kita di Provinsi Bangka Belitung ini bagaimana mengefektifkan lada tetap diekspor melalui Bangka Belitung. Tentunya karena banyak lada-lada ini dibawa ke daerah lain dicampur dengan produksi lada daerah tertentu sehingga mutu lada Provinsi Bangka Belitung bisa berkurang," lanjutnya.

(riz)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved