Timah

Istri Alman Jual Timah Tengah Malam, Penambang Rakyat 'Menjerit'

Aktivitas ini sudah menjadi rutinitas harian bagi Alman, seorang penambang timah di daerah Sijuk, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung.

Tayang:
Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Teddy Malaka
Pos Belitung
Bijih timah milik warga. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Hari masih gelap, sekitar pukul 05.00 WIB, ketika Alman memulai perjalanannya hari ini. Dengan mengendarai motor tuanya, ia menembus dinginnya pagi menuju lokasi tambang yang berjarak sekitar 20 kilometer dari rumahnya.

Aktivitas ini sudah menjadi rutinitas harian bagi Alman, seorang penambang timah di daerah Sijuk, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung.

Pagi-pagi sekali, Alman bergegas ke lokasi menambang. Bukan tanpa alasan. Ketakutan akan razia yang kerap dilakukan aparat membuatnya harus memulai pekerjaannya lebih awal.

Razia ini menjadi momok bagi para penambang seperti dirinya, yang bekerja keras mencari rezeki di tengah bayang-bayang ketidakpastian.

Siang atau sore hari, Alman kembali ke rumah dengan hasil jerih payahnya.

Terkadang, hasil tambang cukup untuk menutupi biaya bahan bakar mesin suntik yang digunakan, yang memerlukan sekitar 8-10 liter pertalite setiap kali beroperasi.

Namun, tak jarang hasilnya hanya cukup untuk menutupi modal, tanpa ada upah yang bisa dibawa pulang. Meski demikian, pekerjaan menambang adalah satu-satunya harapan untuk menyambung hidup.

Timah hasil tambang hari itu segera dibersihkan oleh sang istri. Istrinya bertugas membersihkan timah sebelum dijual ke pengepul.

"Hari ini dapat 1,9 kilogram yang bersih, lumayan kalau ini. Dua hari yang lalu malah hanya dapat 7 ons dan 8,5 ons," kata Alman pada Minggu (21/7). Timah dijual seharga Rp122 ribu per kilogram.

Berapa pun hasil yang didapat, selalu dijualnya ke pengepul. Jika tidak, tidak ada modal untuk menambang keesokan harinya.

"Jadi jual seadanya lah. Kalau dapat 7 ons, dijual lah segitu. Misal dapat lah Rp86.000, walaupun tidak pulang modal, bisa beli bahan bakar untuk jalan besoknya. Kalau tidak dijual, tidak ada modal, besoknya tidak bisa jalan," kata Alman.

Namun, menjual timah tidak semudah yang dibayangkan. Pengepul terbatas dan mereka juga khawatir akan razia aparat.

Sang istri bahkan pernah menjual timah tengah malam karena takut terkena razia.

Gudang kolektor timah pun ditutup rapat, belasan warga penambang duduk lesehan mengantre untuk menjual timah mereka agar bisa menjadi modal keesokan harinya dan membeli kebutuhan hidup sehari-hari.

"Pening kalau diceritakan. Rasanya cari rezeki tapi dianggap seperti maling, sembunyi-sembunyi. Ini saja timahnya sekarang tidak digoyang, karena banyak meja goyang yang tutup. Jadi jual begitu saja," ungkap Alman. (*)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved