Tampang dr Prathita Amanda, Dokter RSUP Semarang, Bully Dokter Junior dengan Sebutan Sampah

Dokter Prathita Amanda Aryani, membuat geram warganet atas pernyataannya di media sosial.

Tayang:
Editor: Alza
Istimewa
Prathita Amanda Aryani, dokter di PPDS Undip yang dituduh ikut bully juniornya. 

POSBELITUNG.CO - Dokter Prathita Amanda Aryani, membuat geram warganet atas pernyataannya di media sosial.

Dia adalah dokter di RSUP dr Kariadi Semarang.

Dirinya menjadi sorotan, lantaran berkomentar terkait kematian dr Aulia Risma Lestari.

Menurutnya, dr Aulia meninggal dunia bukan karena dibully seniornya di Pendidikan Profesi Dokter Spesialis (PPDS) Undip Semarang.

Prathita menyebutkan fitnah jika meninggalnya Aulia karena bully seniornya.

Disebut-sebut dia terlibat melakukan tindakan bullying atau perundungan pada mahasiswi PPDS. 

Beredar potongan WhatsApp Prathita Amanda Aryani kepada juniornya, yang diunggah oleh akun X Leo. 

"Nasi Padang 1 utuh, lauk: sayur nangka, telur bulat, ayam pop." 

Jumlah 5 bungkus per orang." 

"Share video kalian lagi makan itu 5 bungkus per orang disini jam 14.00." 

"Mengerti," tulis Prathita Amanda Aryani melalui WhatshApp. 

Tak hanya itu, dia lagi-lagi melakukan tindakan pembullyan pada juniornya. 

"Sampah kalian kerja ga becus." 

"Awas kamu typo sekali lagi." 

"Awasi push up kalo mereka gabisa kerja cepat," tulisnya lagi. 

Tentang Prathita Amanda Aryani 

Nama: Prathita Amanda Aryani

Perguruan Tinggi: Universitas Diponegoro 

Jenis Kelamin: Perempuan 

Tahun Masuk: 2022 

Jenjang Program Studi: Spesialis bedah 

Jika menilik dari komentar warganet Prathita Amanda Aryani merupakan alumni FK Yarsi, berikut rinciannya: 

Universitas: YARSI 

Kualifikasi: Pendidikan Dokter 

NIM: 220100119420015 

Tanggal Penetapan: 13 April 2020 

Berlaku Sampai: Selama mengikuti program pendidikan.

Curhat dr Aulia Risma Lestari 

Terungka isi hati dr Aulia Risma Lestari, yang nekat mengakhiri hidupnya.

Buku harian Risma turut mengungkap keluhannya selama mengikuti PPDS di Undip. 

Ini isi buku diary Aulia Risma Lestari yang ditulis di buku hariannya tanggal  5 Juli 2024: 

"1 semester aku berjuang di sini," 

"Terlalu berat untukku," 

"Sakit sekali," 

"Beban fsiknya begitu besar," 

"Aku ingin berhenti," 

"Sakit sekali, sungguh sakit," 

"Rasanya masih sama," 

"Aku ingin berhenti,"

Aku tidak sanggup setiap hari bekerja seperti ini,"

"Ada yang bisa menolong saya,"

"Apa Tuhan tau saya tersiksa,"

 "Apa Tuhan tau aku kesakitan,"

"Kenapa di setiap aku berharap,"

"Aku ingin berhenti,"

"Aku tidak sanggup setiap hari bekerja seperti ini,"

"Ada yang bisa menolong saya,"

"Apa Tuhan tau saya tersiksa,"

"Apa Tuhan tau aku kesakitan,"

"Kenapa di setiap aku berharap,"

"Tapi kenapa aku dibiarkan,"

"Apa aku dilahirkan hanya untuk mengakhiri,"

"Seni kehidupan mana yang kulihat dahulu sehingga aku setuju untuk memililih dilahirkan,"

"Aku tidak serta merta menyerah tanpa berusaha,"

"Tapi kenapa aku dibiarkan,"

"Apa aku dilahirkan hanya untuk mengakhiri,"

"Seni kehidupan mana yang kulihat dahulu sehingga aku setuju untuk memililih dilahirkan,"

"Aku tidak serta merta menyerah tanpa berusaha,"

"Tapi kenapa aku dibiarkan,"

"Apa aku dilahirkan hanya untuk mengakhiri,"

"Aku mohon,"

"Aku tidak sanggup lagi,"

"Bila harus menanggung lebih lama lagi,"

"Aku sendirian, aku berjuang sendiri,"

"Tidak ada yang menolongku,"

"Aku tidak ingin sesakit ini lebih lama lagi,"

"Semoga Tuhan mengampuniku,"

"Tuhan, aku sakit,"

"Aku mohon tempat aku pulang,"

Isi curhatan tersebut menggambarkan kondisi mental Aulia Risma yang mengalami tekanan berat. 

Alasan tak mundur PPDS 

Alasan Aulia Risma Lestari tak bisa mundur dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Undip. 

Risma ditemukan tewas di kamar kosnya, Senin (12/8/2024) lalu.

Polisi mengakui ada bekas suntikan di lengan korban saat proses evakuasi di lokasi kejadian, tepatnya kawasan Lempongsari Kecamatan Gajahmungkur Semarang

Pihak Undip membantah isu dugaan bully di balik tewasnya Aulia Risma Lestari.

Hal itu tertuang dalam salah satu poin dalam siaran pers yang ditandatangani Rektor Undip Prof Suharmono, Kamis 15 Agustus 2024.

Padahal menurut catatan isi harian Risma yang ditemukan di lokasi kejadian dirinya mengaku letih bekerja dan menghadapi para seniornya. 

Risma bahkan sempat mengeluhkan pada ibunya sudah lama ingin resign lantaran tak kuat dengan beban kerja sebagai PPDS di Undip. 

Akan tetapi, Risma rupanya tak bisa mundur dari PPDS Undip yang dijalaninya tersebut. 

Pasalnya, Aulia Risma melanjutkan pendidikan spesialis melalui program beasiswa. 

Sebelumnya ia menjalani praktik sebagai dokter umum di RSUD Kardinah Kota Tegal.

Sebelum Rektor Undip memberikan klarifikasi, sempat beredar di media sosial terkait dugaan masalah beasiswa Aulia Risma. 

Aulia Risma disebut mendapatkan beasiswa dari instansi, sehingga tidak bisa asal mundur. 

Hal ini terungkap dari viralnya tangkapan layar percapakan antar dokter di WhatsApp.

Adapun jika ingin mundur dari PPDS Anestesi Undip, maka Aulia Risma dikabarkan harus membayar uang penalti sebesar Rp 500 juta. 

Orang tua korban disebut tidak menyanggupi nominal tersebut.

"Yang bersangkutan mahasiswa beasiswa dari Tegal, sudah terindikasi tidak kuat di anestesi sejak tahun pertama, tapi tidak bisa dikeluarkan secara sepihak karena dia kiriman instansi," tulis sang dokter dalam tangkapan layar yang viral di X.

"Sudah dipanggil orang tuanya beberapa kali sama KPS dan diminta mengundurkan diri, tapi gak mau.

Karena kalau mundur harus bayar penalty sebesar Rp500 juta, keluarga tidak sanggup," pungkasnya.  (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunbengkulu.com dengan judul BIODATA dan PROFIl Prathita Amanda Aryani, Dokter Undip Diduga Ikut Bully Mahasiswi PPDS

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved