Berita Bangka Selatan

Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Terjadi, KUPP Kelas III Sadai Ingatkan Nelayan dan Operator Kapal

Cuaca ekstrem daan gelombang tinggi disertai angin kencang masih terjadi di sejumlah wilayah perairan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Tayang:
Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Novita
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
KAPAL NELAYAN - Kapal-kapal nelayan bersandar di Pelabuhan Bom Pendek, Kelurahan Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (20/2/2025). Di tengah cuaca ekstrem nelayan diminta untuk selalu memantau prakiraan cuaca sebelum melaut. 

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Cuaca ekstrem daan gelombang tinggi disertai angin kencang masih terjadi di sejumlah wilayah perairan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Oleh sebab itu, operator kapal, perusahaan pelayaran juga nelayan diimbau senantiasa waspada.

Petugas Kesyahbandaran KUPP Kelas III Sadai, Mardiyanto, mengemukakan, cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di perairan laut di Kabupaten Bangka Selatan dan Kabupaten Bangka Tengah. 

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tinggi gelombang laut mencapai satu meter dan berpotensi terus meningkat. 

Sementara kecepatan angin masih dalam kategori normal terutama di perairan wilayah tersebut.

"Kami sarankan apabila kecepatan angin sudah mencapai 15 knot dan tinggi gelombang rata-rata 1,25 meter, nelayan tidak pergi melaut karena sangat berisiko," kata Mardiyanto, Kamis (20/2/2025).

Operator kapal dan perusahaan pelayaran juga nelayan yang beraktivitas di laut, lanjutnya, telah diingatkan agar terus memantau kondisi cuaca. 

Pemantauan dilakukan minimal enam jam sebelum kapal berlayar. 

Hasil tersebut disampaikan kepada KUPP sebelum pengajuan permohonan surat persetujuan berlayar (SPB), khususnya bagi kapal-kapal berukuran besar yang hendak berlayar dari perairan Kabupaten Bangka Selatan.

Begitu pula dengan nelayan yang hendak beraktivitas mencari ikan di laut lepas. 

Mereka ditekankan melengkapi alat keselamatan diri selama melaut, mulai dari pelampung, alat komunikasi, hingga bahan bakar tambahan. 

Semua wajib dilaksanakan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena ketinggian ombak mencapai satu meter lebih, dinilai sangat membahayakan bagi kapal-kapal nelayan kecil. 

Sedangkan bagi kapal besar, ketinggian ombak satu meter belum begitu signifikan dampaknya.

"Kami menyarankan untuk nelayan itu selalu pantau prakiraan cuaca. Kalau memang tidak memungkinkan, jangan memaksakan diri untuk melaut sebab terlalu berisiko," tegasnya.

Mardiyanto mengungkapkan, sejak hampir dua bulan terakhir sudah tercatat satu kecelakaan kapal akibat cuaca ekstrem

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved