Breaking News

Berita Bangka Belitung

Sulit Hindari Efek Berantai Kenaikan Harga Oli Mobil

Ongkos produksi atau beban operasional usaha otomatis turut naik imbas kenaikan harga pelumas kendaraan.

Tayang:
Penulis: Erlangga | Editor: Fitriadi
Aceh.kemenag.go.id
Jauhari, akademisi ekonomi dari Universitas Pertiba. 

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Kenaikan harga oli mobil yang terjadi secara berantai berdampak luas di berbagai sektor usaha.

Ongkos produksi atau beban operasional usaha otomatis turut naik imbas kenaikan harga pelumas kendaraan.

Akademisi ekonomi dari Universitas Pertiba, Dr. Jauhari, menyatakan bahwa kenaikan harga pelumas secara berantai sulit dihindari.

Baca juga: Pemilik Toko Kaget Harga Oli Mobil di Pangkalpinang Melonjak

Menurut dia, oli merupakan komponen vital yang digunakan hampir di seluruh moda transportasi, mulai dari kendaraan pribadi hingga kapal nelayan dan alat berat industri.

“Kalau harga oli naik, biaya perawatan kendaraan juga meningkat. Ini bukan hanya dirasakan pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga perusahaan logistik, angkutan barang, nelayan, bahkan sektor industri,” kata Jauhari, Jumat (15/5/2026).

Ia menambahkan, kenaikan harga oli ini juga memiliki efek luas karena langsung berdampak pada ongkos distribusi.

Ketika biaya logistik meningkat, harga barang di tingkat konsumen berpotensi ikut terkerek.

“Kalau biaya distribusi naik, harga kebutuhan pokok juga akan menyesuaikan. Ini efek berantai yang sulit dihindari,” ujarnya. 

Jauhari mencontohkan, masyarakat yang rutin melakukan servis kendaraan kini harus menyiapkan anggaran lebih besar.

Meski kenaikan biaya terlihat kecil secara nominal, akumulasinya akan terasa ketika terjadi bersamaan dengan kenaikan harga kebutuhan lain.

Kondisi tersebut dinilai semakin berat bagi daerah kepulauan seperti Bangka Belitung yang sangat bergantung pada pasokan barang dari luar wilayah.

Distribusi komoditas seperti bawang, cabai, hingga kebutuhan industri sebagian besar melalui jalur laut.

Selain faktor biaya, Jauhari juga menyoroti pengaruh cuaca dan kondisi pelabuhan yang berpotensi memperlambat distribusi.

Hambatan tersebut dapat menambah tekanan terhadap harga barang dan memicu inflasi daerah.

Dampak serupa juga dirasakan sektor perikanan. Nelayan harus menanggung biaya operasional lebih tinggi untuk bahan bakar dan pelumas mesin kapal.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved