Mutiara Ramadhan
Merawat Kemabruran Puasa: Dari Syariat ke Hakikat
Syariat lebih merupakan konsep merambah jalan Tuhan, sedangkan hakikat keabadian di dalam melihat-Nya.
Al-Qusyairi mencontohkan: Iyyaka na'budu adalah manifestasi syariat, sedangkan iyyaka nasta'in adalah manifestasi hakikat.
Sesungguhnya seseorang tidak mesti harus bertarekat. Tidak mesti juga seseorang memiliki syekh atau mursyid dalam arti pemimpin tarekat.
Seseorang bisa mendapatkan bimbingan dari ulama atau ustas yang mendasarkan ajarannya pada Al-Qur'an dan hadis.
Hanya saja bimbingan mereka sering dianggap bersifat generik dan umum.
Bimbingan khusus secara intensif banyak dirasakan orang melalui tarekat, yang di dalamnya ada tata krama tertentu yang mesti diamalkan.
Namun kita juga harus hati-hati karena banyak aliran tertentu yang cenderung dipertanyakan keabsahan dan kemuktabarahannya menggunakan istilah tarekat.
Jika ingin bertarekat, kita dianjurkan untuk memilih tarekat yang betul-betul ajarannya bersumber dari Al-Qur'an dan hadis.
Tarekat seperti ini biasa disebut dengan tarekat mu'tabarah, suatu tarekat yang tidak diragukan ajarannya.
Tareka yang tidak populer (gair mu'tabarah) belum tentu salah atau sesat. Namun kita harus hati-hati.
Kita harus melihat secara kritis dan memastikan substansi ajarannya tidak bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an dan Hadis. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/Mutiara-Ramadhan.jpg)