Mutiara Ramadhan
Merawat Kemabruran Puasa: Dari Meditasi ke Khalwat
Hanya saja semedi dan pertapaan sering kali dihubungkan dengan suatu tujuan antara, yaitu untuk memperoleh kualifikasi ilmu-ilmu batin atau gaib.
Pengamal khalwat tidak membebani dirinya untuk menggapai ketenangan jiwa.
Boleh saja seseorang tidak memperoleh ketenangan jiwa tetapi sudah berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an atau mengkondisikan diri sebagai ahli ibadah dan ahli dzikir selama beberapa saat.
Ketenangan batin bukan merupakan tujuan akhir. Yang menjadi tujuan akhir ialah kedekatan diri dengan Allah SWT (taqarrub ila Allah).
Kalau sudah merasa lebih dekat dengan Allah SWT biasanya ketenangan itu dengan sendirinya terwujud (ala bidzikrillah tathmainnul qulub), walaupun itu tidak menjadi tujuannya.
Seorang peserta meditasi merasa rugi kalau di dalam meditasinya gagal untuk mencapai ketenangan jiwa.
Untuk meraih ketenangan jiwa, seringkali peserta meditasi harus dilengkapi dengan berbagai alat dan sarana seperti musik-musik meditasi dan sarana lain untuk mengecoh pikiran (mind) agar tidak ikut terlibat di dalamnya.
Instruktur meditasi sering kali mengeluarkan statement bahwa di dalam menjalankan praktek meditasi peserta harus berada pada posisi ”no mind”.
Sedangkan dalam khalwat kita diajak untuk bersahabat dan mencintai semua, termasuk pikiran.
Walaupun disadari juga bawa khalwat atau mujahadah yang paling tinggi kualitasnya manakala kita berhasil menyingkirkan segalanya kecuali Tuhan, La Ilaha Illallah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/Mutiara-Ramadhan.jpg)