Pos Belitung Hari Ini

LIPSUS - Jejak Laptop Chromebook di Provinsi Bangka Belitung

Data yang dihimpun Bangka Pos Group, sebanyak 164 laptop Chromebook disalurkan ke Babel dalam periode 2020-2022. 

Tayang:
Editor: Novita
Dokumentasi Posbelitung.co
POS BELITUNG HARI INI - Pos Belitung Hari Ini edisi Jumat, 18 Juli 2025, memuat headline berjudul LIPSUS - Jejak Laptop Chromebook di Babel. 

Kendati demikian, meski sudah diupayakan, menurut Moko, memperbaiki Chromebook sangat berbeda dengan memperbaiki laptop atau komputer yang biasanya menggunakan Windows sebagai sistem operasinya.

“Memang susah karena itu kan pakai OS, jadi orang di TU kita juga enggak paham, enggak familiar,” sambungnya.

Tak sampai di situ, pihaknya juga pernah membawa Chromebook yang rusak tersebut ke tempat jasa servis dan tetap saja menemui kendala. 

“Kayak keyboard itu pernah kita minta coba benerin yang tempat servis. Tapi ternyata sparepart-nya enggak ada kalau di sini,” tambahnya.

Alhasil, unit-unit Chromebook tersebut baik yang masih bagus maupun rusak, semuanya dibiarkan terpajang rapi di dalam lemari dan hanya disentuh sesekali.

“Kalau mau dipakai terus juga banyak yang guru-guru enggak familiar. Dipakai pun paling cuma buat browsing sama desain di Canva. Jadi kalau belajar di kelas, kita mending nyuruh siswa bawa smartphone, lebih praktis, sama-sama android OS juga,” tuturnya.

Tingkat SMP dan SMA

Di SMP Swadaya Pangkalpinang, laptop yang diterima pada tahun 2021 tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan fitur dan kendala teknis lainnya. Sekolah ini menerima 15 laptop bermerek Zyrex. 

Hingga kini, seluruh unit tersebut tersimpan rapi di ruang kepala sekolah, lengkap dengan kotaknya yang masih utuh dan bertuliskan Zyrex.

Kepala SMP Swadaya Pangkalpinang, Putri, menyampaikan keterbatasan yang cukup menyulitkan dalam penggunaan laptop Chromebook.

“Penggunaan laptop ini sangat terbatas. Bahkan untuk menyimpan file pun tidak bisa. Itu sangat membatasi pemakaian laptop yang seharusnya bisa multifungsi,” ujar Putri saat ditemui Bangka Pos Group, Kamis (17/7/2025).

Meski demikian, Putri memastikan bahwa seluruh unit laptop dalam kondisi fisik yang baik. Selama digunakan, tidak ditemukan kendala seperti kerusakan maupun kelambatan sistem.

“Alhamdulillah, secara fisik masih bagus semua. Selama dipakai juga enggak pernah rusak atau lemot. Tapi memang keterbatasannya lebih ke fungsi dan sistem,” katanya.

Ia menyebut awalnya laptop tersebut direncanakan untuk digunakan di ruang komputer. Namun setelah diuji coba, keterbatasan fitur membuatnya tidak bisa digunakan untuk kegiatan umum seperti mengetik dokumen atau menyusun presentasi.

“Untuk ketik seperti di Word itu juga tidak ada aplikasi dasarnya sangat terbatas untuk tingkat SMP penggunaan laptop bukan cuma berselancar di internet tetapi menunjang pelajaran memasuki ke tahap yang lebih tinggi,” tambahnya.

Terhubung internet

Putri menjelaskan, bahwa Chromebook tersebut tidak bisa digunakan secara optimal tanpa koneksi internet, karena sistem operasinya berbasis cloud (online). Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah yang belum memiliki akses wifi stabil di seluruh ruang belajar.

“Laptop ini harus terhubung ke wifi. Kalau enggak ada koneksi internet, ya enggak bisa dipakai. Jadi akhirnya cuma dipakai saat ANBK atau untuk mengajar online sesekali,” jelas Putri.

Penggunaan Chromebook yang hanya bersifat musiman, seperti saat Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), menurutnya membuat perangkat tersebut tidak terlalu berdampak bagi peningkatan literasi digital siswa di luar kegiatan asesmen.

“Sayang saja kalau bantuan ini tidak bisa dimanfaatkan lebih luas karena keterbatasan fiturnya. Sekolah swasta seperti kami sangat butuh perangkat yang bisa dipakai untuk banyak hal,” tutupnya.

Serupa disampaikan Kepala SMA Swadaya, Binsar Nababan saat ditemui terpisah. Sekolah yang dipimpinnya menerima 15 unit laptop pada tahun 2021,bersamaan dengan SMP Swadaya yang juga berada dalam naungan yayasan yang sama.

“Kalau untuk hari biasa, jarang kami pakai karena keterbatasan penggunaan laptop tersebut. Saya juga bingung, ini anak SMA, yang penggunaan laptopnya sudah kompleks dan intens. Tapi laptop ini terlalu terbatas, hanya mengandalkan sistem berbasis Chrome sangat kurang efektif,” ujar Binsar.

Binsar menyebutkan bahwa meskipun perangkat itu secara umum masih berfungsi baik dan tidak rusak, dari sisi fungsionalitas tidak sesuai dengan kebutuhan siswa SMA, yang biasanya membutuhkan fitur pengetikan, editing, pengolahan data, dan software presentasi secara offline.

Namun demikian, Binsar tetap mengapresiasi upaya pemerintah dalam menghadirkan perangkat digital ke sekolah.

“Kami tetap ucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah, karena niatnya tentu baik. Harapan kami ke depan, mungkin bisa dipertimbangkan versi yang lebih multifungsi. Supaya bisa betul-betul dipakai siswa sesuai jenjangnya,” pungkasnya.

(riu/w4/u2/x1)

Sumber: Pos Belitung
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved