Nuklir Sumber Energi Baru di Indonesia

Pemerintah tidak ragu untuk menyebut nuklir sebagai energi baru, yang berarti nuklir dipandang sebagai sumber energi dengan potensi yang sama

Tayang:
PT Thorcon Power Indonesia
Desain reaktor PLTN Thorcon 500 

Kendati dikenalkan sebagai “energi baru” di Indonesia, PLTN sebenarnya adalah jenis pembangkit yang telah eksis sejak awal industrialisasi dunia modern pada 1950-an. Energi nuklir saat ini menyumbang 9 persen dari total kapasitas listrik secara global, dengan 440 reaktor yang aktif beroperasi di seluruh dunia.

Saat ini, lebih dari 50 negara telah mengoperasikan reaktor riset, selain PLTN, sebanyak 220 reaktor, dan tiga diantaranya ada di Indonesia, yakni Reaktor Serba Guna GA. Siwabessy di Serpong, reaktor TRIGA 2000 Bandungdi Bandung, dan reaktor Kartini di Yogyakarta.

Dunia telah mengenal reaktor komersial sejak 1960an. Teknologi PLTN yang dikembangkan pada era tersebut menjadi tulang punggung kemajuan industri di negara masing-masing.

Prancis menikmati persentase terbesar dari energi nuklir dengan 70 persen energinya dihasilkan oleh PLTN, sementara Amerika Serikat adalah pengguna dengan kapasitas terbesar yang mencapai 772.2 TWh. Saat ini, dunia berlomba untuk meningkatkan kapasitas energi nuklir.

Pada COP 28 di Dubai 2023 lalu, lebih dari 20 negara pengguna PLTN mendeklarasikan komitmen Triple Nuclear Energy, untuk meningkatkan penggunaan nuklir tiga kali lipat pada 2050.

Pada COP29 di Ajerbaijan, sebanyak 6 negara lain turut bergabung. Nuklir akan ditingkatkan kapasitasnya karena terbukti merupakan energi yang aman, andal, dan dapat mendukung pencapaian nol emisi karbon.

Negara-negara di Asia saat ini semakin kuat mendorong pemanfaatan nuklir. Pada 2025, India sedang membangun PLTN Rajashtan 7 dengan daya 630 MW yang ditargetkan selesai tahun ini, sementara Tiongkok sedang membangun 4 PLTN baru, dan Korea Selatan 1 PLTN.

Indonesia merupakan satu-satunya dari lima negara berpopulasi terbesar: India, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Brazil, yang belum mengoperasikan PLTN.

Progres Indonesia dalam pembangunan PLTN tertinggal dari negara-negara tersebut, meski Indonesia adalah salah satu negara yang paling awal menargetkan rencana pembangunan PLTN sejak era Soekarno, dan telah mendirikan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN – sekarang BRIN) pada 1958. 67 tahun lalu.

Kendati demikian, Indonesia tidak harus pesimis dalam proyeksi pemanfaatan energi nuklir, sebaliknya harus kembali dan terus optimis dalam menyusun rencana strategis dan target yang dapat dicapai dalam waktu dekat.

Indonesia perlu segera mewujudkan pembangunan PLTN pertama, yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2032 di Bangka Belitung, dan menjadi milestone menuju pembangunan PLTN untuk mencapai transisi energi dan NZE 2060 mendatang. (*/E0)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved