Kolektor Timah Ditangkap

Warga Minta Tolong Jual Timah di Kantor Desa

“Sudah ada warga datang ke kantor desa minta tolong. Mereka bawa timah empat kilo, hasil dua hari kerja,"

Tayang:
Editor: Teddy Malaka
Dok. Satreskrim Polres Belitung Timur
PASIR TIMAH - Ilustrasi 

POSBELITUNG.CO, BANGKA -- Keheningan baru menyelimuti Desa Airgegas, Kecamatan Airgegas, Bangka Selatan. Penangkapan seorang kolektor timah ilegal tidak hanya membawa proses hukum, tetapi juga mengguncang denyut ekonomi masyarakat kecil yang selama ini bertahan hidup dari penambangan timah skala kecil atau penambang “tungau”.

Sekretaris Desa Airgegas, Umar, mengakui betapa panjangnya ketergantungan warga pada timah.

Dari ribuan penduduk, ratusan keluarga menggantungkan kebutuhan harian dari hasil gali sederhana di bekas tambang.

“Yang menambang ini bukan tambang besar. Mereka tungau, dapatnya sedikit-sedikit,” ujarnya.

Namun situasi berubah drastis setelah FR, kolektor yang selama ini menampung hasil warga, diamankan polisi pada 26 Desember 2025.

Ringkasan Berita:
  • Penangkapan kolektor timah ilegal di Airgegas membuat ekonomi penambang kecil mendadak terhenti dan resah
  • Ratusan keluarga bergantung timah skala kecil kini kehilangan pembeli, memicu keresahan sosial warga setempat
  • Pemerintah desa akui warga kesulitan kerja alternatif, sebagian mencari upah kebun sawit sebagai pilihan
  • Aparat sita lebih seribu enam ratus kilogram timah, hukum jalan namun solusi ditunggu masyarakat

Baca juga: Cerita Ditemukannya Dua Lubang Buaya Dekat Pantai Tanjung Kerindang Membalong

Baca juga: Breaking News: Jadi Tersangka Kasus Ijazah, Hellyana Penuhi Panggilan Penyidik Bareskrim Polri

Dalam penggerebekan, aparat menemukan 19 kampil pasir timah dengan total berat sekitar 608 kilogram, lengkap dengan peralatan pengolahan. 

Meski demikian, Umar menegaskan FR bukan pemain besar.

“Dalam seminggu paling sekitar 500 kilogram. Itu pun hasil beli dari warga yang jual satu sampai sepuluh kilo,” jelasnya.

Sejak penangkapan itu, aktivitas jual beli timah berhenti mendadak. Para penambang kecil kebingungan karena tak lagi memiliki saluran penjualan.

“Sudah ada warga datang ke kantor desa minta tolong. Mereka bawa timah empat kilo, hasil dua hari kerja, tapi tidak bisa dijual ke mana-mana. Semua orang takut beli,” tuturnya.

Bahkan ada yang datang hanya untuk meminta beras, sekadar bertahan hidup.

Baca juga: Breaking News: Jadi Tersangka Kasus Ijazah, Hellyana Penuhi Panggilan Penyidik Bareskrim Polri

Sebagian warga kini menyerah, memilih berhenti menambang karena takut terhadap penindakan hukum. Beberapa datang mencari pekerjaan apa pun.

“Ada yang bilang, kerja apa saja tidak apa-apa. Akhirnya kami arahkan ke kebun sawit sebagai kuli harian,” kata Umar.

Namun tak semua bisa beralih mudah. Keterbatasan lahan, modal, dan kesempatan kerja membuat ruang gerak semakin sempit.

Penambang kecil di Airgegas selama ini hanya mengais sisa timah di eks tambang, berpindah dari satu titik ke titik lain dengan alat seadanya.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved