Ramadhan 2026

Menggali Perbedaan Ramadhan di Belitung Abad ke-19 dan Era Digital

Jika dulu umat muslim Belitung harus berjuang mendapatkan naskah Al-Qur'an, kini kitab suci tersebut berada di genggaman

Tayang:
Editor: Hendra
Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha
TRADISI - Kurator Museum Pemkab Belitung, Wahyu Kurniawan, saat menjelaskan kaitan antara laporan kolonial abad ke-19 dengan tradisi ziarah kubur masyarakat Belitung menjelang Ramadhan, Kamis (19/2/2026). Meskipun dilakukan secara turun-temurun, ziarah sebelum puasa ternyata memiliki akar sejarah yang kuat sebagai bentuk persiapan batin dan penghormatan terhadap leluhur bagi penduduk asli. 

Teknologi harusnya menjadi alat untuk memperdalam pemahaman agama, bukan justru menjadi instrumen yang menjauhkan jemaah dari ketakwaan.

Wahyu juga membeberkan bagaimana media kolonial di masa lalu hanya mencatat peristiwa besar secara umum, sementara sekarang setiap momen Ramadhan bisa didokumentasikan dengan detail oleh masyarakat sendiri.

"Dokumentasi sejarah ini penting agar anak cucu kita di masa depan tahu bagaimana kita menjalankan Ramadan di tahun 2026 ini" ucapnya.

Satu hal yang tetap bertahan dari abad ke-19 hingga era digital adalah kebersamaan masyarakat Belitung dalam menyambut bulan puasa. Meskipun caranya berbeda, esensi kegembiraannya tetap sama.

Sebagai penutup, Wahyu mengajak seluruh masyarakat untuk bersyukur atas kemudahan teknologi saat ini dengan cara meningkatkan kualitas interaksi dengan kitab suci selama bulan Ramadan.

Jangan sampai kemudahan akses justru membuat lalai untuk lebih taat di bulan yang penuh berkah ini.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

Sumber: Pos Belitung
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved