Mimpi Jadi Dokter Pertama di Keluarga Besar, Rey Persembahkan Kelulusan SNBP untuk Keluarga

Christian Reynaldo A (17) atau Rey, remaja yang baru saja dinyatakan sebagai calon mahasiswa Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan) tampak lega

Tayang:
Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha
Christian Reynaldo A (17) menunjukkan layar laptopnya yang menampilkan pengumuman kelulusan SNBP 2026 di ruang Kepala Sekolah SD Baptist Manggar, Selasa (31/3/2026). Siswa SMAN 1 Manggar ini berhasil menembus ketatnya persaingan di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan) dan mendedikasikan keberhasilannya untuk membahagiakan orang tua serta mewujudkan janji kepada mendiang kakeknya. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kegaduhan kecil yang penuh tawa dan haru masih menyelimuti ruang kepala sekolah SD Baptis Manggar, Belitung Timur setelah pengumuman SNBP keluar, Selasa (31/3/2026).

Christian Reynaldo A (17) atau Rey, remaja yang baru saja dinyatakan sebagai calon mahasiswa Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan) tampak lega. Beban di pundaknya seolah luruh seketika.

Hal pertama yang dilakukan Rey secara refleks adalah memberi kabar kepada sosok yang sangat berpengaruh baginya, yaitu Pak Muhendy. Beliau adalah guru Seni Budaya sekaligus pembina ekskul Broadcast Team di SMA Negeri 1 Manggar. 

"Refleks aja langsung kasih tahu guru aku," ujar Rey.

Di balik keberhasilan ini, ada sebuah kisah menyentuh yang terungkap dari bibir sang ayah, Paulus Aseleo (46). Selama ini, banyak yang bertanya mengapa Rey begitu gigih ingin masuk kedokteran.

Paulus mengatakan suatu hari ia pernah bertanya kepada Rey tentang pilihannya itu. 

"Bang, kenapa sih mau ambil kedokteran? Orang sudah kerja, kamu masih belajar," ucap Paulus.

Jawaban Rey saat itu membuat Paulus terharu. Rey mengatakan ia ingin membahagiakan Papi dan Maminya.

Tak sampai di situ, Rey ingin menjadi orang pertama di keluarga besar kedua orang tuanya yang menyandang gelar dokter. Belum pernah ada satu pun kerabat dari pihak Papi maupun Mami yang berprofesi sebagai dokter.

"Yang paling membuat terharu, dia bilang mau membahagiakan Kakek di surga," ungkap Paulus.

Kakek Rey sudah meninggal delapan tahun lalu, namun hubungan emosional mereka sangat kuat. Janji untuk sang kakek itulah yang menjadi bahan bakar utama Rey selama tiga tahun di SMA.

Sebagai orang tua, Paulus mengaku bangga namun sekaligus merasa memiliki PR yang besar. Ia sadar, masuk kedokteran berarti ada harga yang harus dibayar.

Bukan hanya soal materi, tapi juga dukungan mental dan kerja keras yang lebih hebat lagi.

"Ini PR buat kami ke depannya. Kami harus kerja keras lagi. Kalau sudah masuk, ada harga yang harus dibayar," ujar Paulus.

Meski begitu, Paulus memberikan jaminan penuh kepada Rey.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved