Berita Belitung Timur
Kisah Ceng Beng: Legenda Raja dan Makna Bakti dalam Tradisi Leluhur
Di tengah terik matahari Manggar, tradisi Ceng Beng tetap dijalankan dengan khidmat. Bagi warga Tionghoa, ritual ini bukan sekadar ziarah,...
Penulis: Kautsar Fakhri Nugraha | Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Suasana tenang menyelimuti area pemakaman warga Tionghoa di Desa Pancur, Kecamatan Manggar, Jumat (3/4/2026) pagi. Di tengah terik matahari yang mulai menyengat sejak pukul 08.30 WIB, barisan nisan megah tampak berdiri rapi di kawasan perbukitan sepanjang Jalan Tengah Tanjung Pandan–Manggar.
Keramaian yang sempat memuncak sejak subuh perlahan mereda, menyisakan keheningan yang hanya sesekali dipecah hembusan angin. Di antara deretan makam, sejumlah kendaraan terlihat terparkir, menandakan masih ada warga yang menjalankan tradisi tahunan Ceng Beng.
Salah satunya adalah Kinfa Liu (66), yang akrab disapa Pak Man. Ia datang bersama istri dan anaknya, mengenakan pakaian santai berupa kaos polo, topi, dan celana pendek.
Bagi Man, Ceng Beng bukan sekadar ritual membersihkan makam leluhur. Tradisi ini memiliki makna mendalam yang ia serap sejak kecil, jauh sebelum ia memutuskan untuk merantau dan menetap di Jakarta.
"Ini adalah tradisi turun-temurun, warisan dari nenek moyang kita," ujarnya.
Sembari melakukan persiapan, Man bercerita tentang sebuah legenda kuno yang menjadi dasar tradisi ini. Sebuah kisah yang menurutnya harus diketahui oleh setiap generasi muda Tionghoa.
Ia mengisahkan tentang seorang raja di zaman Tiongkok kuno. Sebelum menjadi penguasa, pria itu adalah orang susah yang harus pergi merantau jauh meninggalkan ibunya seorang diri di kampung halaman.
Singkat cerita, sang anak berhasil meraih kejayaan dan diangkat menjadi raja. Hal pertama yang ia inginkan adalah pulang dan memuliakan ibunya.
Namun, takdir berkata lain. Sesampainya di kampung, sang ibu ternyata telah lama meninggal dunia dan dimakamkan secara sederhana.
Sang raja diliputi kebingungan yang luar biasa. Ibunya dimakamkan tanpa tanda atau Bongpay oleh tetangganya.
Oleh karena itu, Di hadapan Sang raja ribuan makam rakyat biasa nampak sama dimana semuanya tertutup semak belukar dan rumput liar yang tak terurus.
"Namanya dia raja, dia punya taktik," ucap Man.
Sang raja memerintahkan seluruh rakyatnya untuk keluar dan membersihkan makam keluarga mereka masing-masing tanpa terkecuali dalam jangka waktu tertentu.
Perintah itu pun dipatuhi. Rakyat berbondong-bondong menebas rumput, mengecat ulang tulisan yang pudar, dan mempercantik makam orang tua mereka.
Setelah waktu habis, sang raja kemudian meninjau seluruh area pemakaman yang kini sudah rapi dan bersih.
| Dinkes Beltim Ingatkan Warga, Hati-Hati Gunakan Air Sungai saat Kemarau, Khawatir Tercemar Bakteri |
|
|---|
| Waspada ISPA, Kemarau Panjang Bakal Terjadi hingga Agustus, Dinkes Beltim Minta Warga Pakai Masker |
|
|---|
| Suara Hati Petugas Kebersihan Manggar, Harap Nasib PPPK Belitung Timur Aman 2027 |
|
|---|
| Kisah Bobby, Petugas Kebersihan di Beltim yang Bertahan 13 Tahun dari Honorer hingga PPPK |
|
|---|
| Belanja Pegawai Tembus 53 Persen, Pemkab Belitung Timur Cari Solusi Penuhi Batas UU |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20260403-TRADISI-TAHUNAN-Suasana-ziarah-di-Area-Pemakaman-Warga-Tionghoa-Manggar.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20260403-TRADISI-TAHUNAN-Suasana-ziarah-di-Area-Pemakaman-Warga-Tionghoa-Manggar2.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20260403-TRADISI-TAHUNAN-Suasana-ziarah-di-Area-Pemakaman-Warga-Tionghoa-Manggar1.jpg)