Berita Belitung Timur

Kisah Ceng Beng: Legenda Raja dan Makna Bakti dalam Tradisi Leluhur

Di tengah terik matahari Manggar, tradisi Ceng Beng tetap dijalankan dengan khidmat. Bagi warga Tionghoa, ritual ini bukan sekadar ziarah,...

Kisah Ceng Beng: Legenda Raja dan Makna Bakti dalam Tradisi Leluhur - 20260403-TRADISI-TAHUNAN-Suasana-ziarah-di-Area-Pemakaman-Warga-Tionghoa-Manggar.jpg
Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha/Kautsar Fakhri Nugraha
TRADISI TAHUNAN - Suasana ziarah di Area Pemakaman Warga Tionghoa Manggar, Desa Padang, Belitung Timur, Jumat (3/4/2026). Memasuki periode Ceng Beng, area pekuburan ini menjadi pusat kegiatan ziarah bagi warga lokal maupun perantau yang pulang untuk membersihkan makam leluhur. 
Kisah Ceng Beng: Legenda Raja dan Makna Bakti dalam Tradisi Leluhur - 20260403-TRADISI-TAHUNAN-Suasana-ziarah-di-Area-Pemakaman-Warga-Tionghoa-Manggar2.jpg
Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha/Kautsar Fakhri Nugraha
TRADISI TAHUNAN - Suasana ziarah di Area Pemakaman Warga Tionghoa Manggar, Desa Padang, Belitung Timur, Jumat (3/4/2026). Memasuki periode Ceng Beng, area pekuburan ini menjadi pusat kegiatan ziarah bagi warga lokal maupun perantau yang pulang untuk membersihkan makam leluhur. 
Kisah Ceng Beng: Legenda Raja dan Makna Bakti dalam Tradisi Leluhur - 20260403-TRADISI-TAHUNAN-Suasana-ziarah-di-Area-Pemakaman-Warga-Tionghoa-Manggar1.jpg
Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha/Kautsar Fakhri Nugraha
TRADISI TAHUNAN - Suasana ziarah di Area Pemakaman Warga Tionghoa Manggar, Desa Padang, Belitung Timur, Jumat (3/4/2026). Memasuki periode Ceng Beng, area pekuburan ini menjadi pusat kegiatan ziarah bagi warga lokal maupun perantau yang pulang untuk membersihkan makam leluhur. 

Namun, ada satu makam yang tetap dibiarkan semak dan terbengkalai. Sang raja pun menangis karena ia tahu itulah makam ibunya.

"Dari taktik itulah raja menemukan ibunya. Dan dari situ pula tradisi Ceng Beng dimulai. Tradisi di mana setiap anak harus membersihkan makam agar orang tua mereka tidak 'hilang' di telan semak," ungkap Man.

Legenda ini menjadi pengingat keras bagi Man. Ia mengatakan makam yang bersih adalah simbol bahwa keluarga tersebut masih memiliki keturunan yang berbakti. Sebaliknya, makam yang bersemak bisa menjadi tanda putusnya kasih sayang antar generasi.

Bagi Man, Ceng Beng adalah tradisi yang sakral. Ia menjelaskan bahwa ada aturan yang ketat, misalnya perbaikan makam hanya boleh dilakukan di bulan ini. Jika dilakukan di luar periode Ceng Beng, mereka tidak berani melakukannya.

"Bagi orang Buddha, kalau hari selain Ceng Beng, kita ndak berani. Misalnya ngecat ulang atau memperbaiki yang pecah, itu ndak boleh. Harus di bulan yang baik ini," ujarnya.

Man juga bercerita tentang batas waktu ritual dimana puncak peringatan yang jatuh setiap tanggal 5 April ini memiliki aturan tersendiri.

Selain itu, Man menjelaskan makna balas budi adalah sesuatu yang tidak akan pernah selesai. Meskipun orang tua sudah tiada, ikatan itu harus tetap dijaga.

"Mungkin orang bilang balas budi ndak cukup, apalagi kalau mereka sudah ndak ada. Tapi selagi kita mampu, ini harus jalan terus," ucapnya.

Pesan ini nampaknya menjadi pemantik kepulangan Man tahun ini. Ia ingin menekankan bahwa bakti tidak mengenal jarak.

Sebelum beranjak, Man menunjukkan keramahannya. Ia masih sempat menawarkan air mineral dingin untuk melepas dahaga di tengah cuaca panas.

Man pun berpamitan, memasuki mobilnya bersama istri dan anak. Klakson mobilnya menjadi pertanda terlaksananya tradisi yang Man anggap sangat sakral ini. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

Sumber: Pos Belitung
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved