Berita Bangka Belitung

Rumah Kayu Khas Bangka Masih Kokoh Meski Lebih dari Satu Abad

Rumah adat khas masyarakat Bangka di Desa Ranggung Kecamatan Payung ini masih berdiri kokoh meski sudah lebih dari satu abad.

Penulis: Erlangga | Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Erlangga
MELAMPAUI SATU ABAD - Rumah panggung tua di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, masih berdiri kokoh meski usianya telah melampaui satu abad. Rumah ini kini ditempati Amrullah (50), generasi ketiga dari pemilik awal, Hasyim bin Hapsa. Gambar diambil pada Jumat (24/4/2026). 

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Rumah adat khas masyarakat Bangka ini masih berdiri kokoh meski sudah lebih dari satu abad.

Bentuknya rumah panggung dibuat menggunakan bahan kayu, sekarang usianya sudah 130 tahun.

Rumah tua ini berada di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini sudah 130 tahun lamanya.

Baca juga: Wisata Belitung : Rumah Adat Belitung, Menawarkan Wisata Budaya dan Sejarah

Pantauan Bangkapos.com (grup Posbelitung.co ), dari tampilan luar, rumah tersebut memperlihatkan ciri khas arsitektur lama.

Tiang-tiang kayu berukuran besar menopang lantai yang ditinggikan, sementara dinding papan berwarna cokelat keabu-abuan tersusun rapat. 

Teras memanjang di bagian depan menegaskan karakter rumah panggung yang umum pada masa lampau.

lihat fotoGrafis rumah panggung tua di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, masih berdiri kokoh meski usianya telah melampaui satu abad.
Grafis rumah panggung tua di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, masih berdiri kokoh meski usianya telah melampaui satu abad.

Rumah ini kini ditempati Amrullah (50), generasi ketiga dari pemilik awal, Hasyim bin Hapsa.

Ia tinggal seorang diri dan menjaga rumah warisan keluarga tersebut dengan perawatan sederhana.

“Rumah ini rumah kakek saya. Umurnya sekitar 130 tahun, dibangun sekitar 1898, masih zaman Belanda,” ujar Amrullah saat ditemui, Jumat (24/4/2026).

Ia menuturkan, rumah tersebut dahulu dihuni keluarga besar.

Ayahnya merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara yang sempat tinggal bersama sebelum akhirnya berpencar setelah berkeluarga.

“Dulu semua tinggal di sini. Setelah menikah, satu per satu keluar. Sekarang tinggal saya sendiri yang menjaga,” katanya.

Sehari-hari, Amrullah bekerja di kebun sawit dan kembali ke rumah itu setiap sore.

Ia mengaku tidak melakukan perawatan khusus, selain menjaga kebersihan.

“Paling disapu dan dibersihkan saja. Tidak ada perawatan khusus,” ujarnya.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved