Berita Belitung Timur

Kisah Sukses Mariati Pengusaha Kripik Pisang di Manggar Bisa Tembus Pasar Internasional

Mariati mempromosikan produknya melalui WhatsApp, Facebook, TikTok, hingga Instagram hingga menembus pasar ke Malaysia hingga Arab

Tayang:
Penulis: Kautsar Fakhri Nugraha | Editor: Hendra
Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha
UMKM KERIPIK PISANG - Mariati (40), pemilik usaha keripik pisang Adeza sedang mengemas keripik pisang kepok secara manual yang produksinya di Desa Padang, Manggar, Belitung Timur, Minggu (3/5/2026). Meskipun usahanya kecil tetapi penjualannya mampu menembus pasar ekspor ke Malaysia hingga ke Arab Saudi. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kepulan asap sudah membumbung dari sebuah rumah yang tampak sederhana, Minggu (3/5/2026), pagi.

Di depan rumahnya terpampang sebuah papan besar berdiri kokoh, tulisan Adeza menjadi yang penarik mata untuk melirik.

Di papan itu pula, tertulis beragam varian rasa keripik pisang yang menjadi usaha besutan perempuan bernama Mariati (40).

Adeza bisa dibilang simbol ketekunan seorang ibu yang merintis usaha dari nol sejak tahun 2018 silam.

Dapur produksi Adeza bukanlah pabrik besar yang dipenuhi mesin-mesin canggih. Lokasinya tepat berada di samping rumah, sebuah ruang terbuka. Suasana pagi itu tampak sibuk, ritme kerja yang terjaga selama delapan tahun terakhir masih terasa kental.

Di sebuah sudut, dua orang pegawai Mariati tampak duduk berhadapkan tumpukan pisang kepok berwarna hijau menggunung di atas sebuah gerobak sorong. Jemari mereka lincah memainkan pisau, mengupas kulit pisang satu per satu.

Pekerjaan sesekali diselingi obrolan ringan antara keduanya, namun mereka tetap fokus. Sementara itu, di sudut lainnya sebuah kuali besar berisi minyak panas sudah menunggu. Di sinilah Posbelitung.co menjumpai Mariati.

Mariati duduk di depan kuali besar tersebut. Tangan kirinya memegang alat pengiris manual, sementara tangan kanannya menggesekkan pisang yang tadi terkupas hingga irisan tersebut terendam di minyak yang mendidih.

Setiap irisan pisang kepok yang jatuh menimbulkan suara desis yang khas. Mariati kemudian mengaduk-aduk irisan pisang itu agar matangnya merata dan tidak gosong.

Disertai wajah yang terkena uap panas, mariati menceritakan perjalanan usahanya.

“Biasanya kita mulai produksi itu jam enam lewat sedikit. Bergantung pada tukang gorengnya, kalau cepat ya selesainya jam dua siang, kalau tidak ya sampai sore,” ujar Mariati.

Ketekunan Mariati selama 8 tahun membuahkan hasil yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Meski diproduksi secara rumahan, keripik pisang Adeza miliknya ternyata memiliki reputasi yang mengagumkan.

Tak pernah Mariati sangka bahwa keripik pisang dari pinggiran Manggar ini sudah dicicipi oleh lidah orang-orang di Malaysia.

Mariati bercerita, seringkali ada kerabat pelanggannya yang membeli dalam jumlah banyak untuk dibawa sebagai buah tangan ke Negeri Jiran tersebut.

Tak berhenti di situ, keripik Adeza juga sering dikirim lewat paket menuju Jakarta, Bangka, hingga Tanjungpandan. Namun, satu cerita yang paling membuat Mariati bangga adalah saat keripiknya sampai ke tanah suci.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved