Tradisi Maras Taun Desa Aik Kelik dan Filosofi Lepat Budi di Belitung Timur
Tidak ada sekat yang kaku. Semua orang membaur dalam satu tujuan, yakni merayakan keberkahan tahun yang telah lewat
Penulis: Kautsar Fakhri Nugraha | Editor: Ardhina Trisila Sakti
POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Sebuah gapura sederhana berdiri tegak di Desa Aik Kelik, Kecamatan Damar. Di bagian atasnya, terpampang tulisan Maras Taun Desa Aik Kelik Tahun 2026.
Siang itu, aroma daun lais dan ketan menyerbak dari rumah pemangku adat desa, menandakan puncak syukur atas hasil bumi.
Riuh suara masyarakat mulai terdengar. Para tamu yang datang disambut oleh gerak gemulai penari tradisional yang membawakan tarian selamat datang. Alunan musik pengiring seolah menciptakan suasana magis yang kental akan nuansa adat Melayu Belitung.
Di pelataran rumah, para tokoh masyarakat, tetua adat, hingga pejabat daerah duduk. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Belitung Timur, Muhamad Yulhaidir, tampak duduk berdampingan dengan Kepala Desa Aik Kelik, Suhardi dan pemangku adat desa.
Tidak ada sekat yang kaku. Semua orang membaur dalam satu tujuan, yakni merayakan keberkahan tahun yang telah lewat.
Suhardi, dalam sambutannya, tak henti-hentinya mengucap syukur karena tradisi Maras Taun di desanya tetap lestari. Baginya, Maras Taun bukan sekadar pesta rakyat, melainkan janji masyarakat kepada alam dan Sang Pencipta untuk tetap menjaga kearifan lokal.
Setelah rangkaian sambutan usai, perhatian puluhan pasang mata tertuju pada sebuah benda unik yang terbungkus daun lais berwarna hijau. Bukan lepat panjang seperti yang sering ditemui di desa-desa lain di Belitung Timur, melainkan sebuah lepat berukuran besar dan berbentuk kubus yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Lepat Budi.
“Ini menarik karena saya sudah putar-putar di beberapa Maras Taun, rata-rata lepat itu pasti panjang. Nah, kalau di sini memang unik tradisinya,” ujar Yulhaidir saat dikonfirmasi, Jumat (15/5/2026).
Yulhaidir menjelaskan, bentuj Lepat Budi ini bukan tanpa alasana. Ada pesan yang dititipkan para leluhur melalui bentuk makanan ini.
Yulhaidir melanjutkan penjelasannya bahwa Budi merupakan simbolisasi dari wadah atau hasil yang diperoleh para petani ladang.
“Masyarakat menyebutkan Lepat Budi karena memang seukuran. Semakin besar ukuran Budinya itu, maka dipercaya semakin besarlah penghasilan atau hasil uma (ladang) pada waktu itu. Ini adalah simbol kemakmuran masyarakat berladang,” ucapnya.
Ritual pemotongan janur dari Lepat Budi menjadi momen yang paling dinanti. Momen ini menandai bahwa masa panen telah resmi disyukuri dan doa untuk musim tanam berikutnya mulai dipanjatkan.
Tak lama setelah itu, suasana berubah menjadi acara makan-makan yang luar biasa hangat. Di depan para tamu, berderet dulang-dulang yang telah disiapkan. Di atas dulang tersebut, tersaji berbagai lauk pauk yang menggugah selera.
Makan bedulang ini menjadi puncak dari interaksi masyarakat di Aik Kelik. Tanpa memandang status, para tamu dan warga duduk berhadapan, berbagi nasi, lalu menyantap lauk yang tersaji.
"Maras Taun ini adalah wujud rasa syukur masyarakat. Kita melihat bagaimana gotong royong terjalin dari persiapan hingga acara makan bersama ini," ungkap Yulhaidir.
| Siapkan Berkas Anda! Ini Kelengkapan Administrasi Beasiswa Kuliah Belitung Timur 2026 |
|
|---|
| Pemkab Belitung Timur Buka Seleksi Beasiswa Kuliah Tahun 2026, Berikut Persyaratannya |
|
|---|
| Kisah Awi, Cleaning Service RSUD Muhammad Zein yang 7 Tahun Jadi Pendukung Hidup Anak Thalasemia |
|
|---|
| Jeritan Hati Anak Penderita Talasemia di Bangka Belitung: Kenapa Aku Dilahirkan Sakit |
|
|---|
| DSP3A Belitung Timur Soroti Melemahnya Kecerdasan Emosional dan Spiritual Remaja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20260515-RITUAL-PEMOTONGAN.jpg)