Berita Bangka
Wabah Malaria Menyerang Warga Pesisir Belinyu
Masyarakat pesisir Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka sedang dihantui wabah malaria.
Ringkasan Berita:
- Penyakit malaria sempat dinyatakan berhasil dieliminasi di Bangka kini muncul kembali.
- Puluhan warga pesisir Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka kena malaria.
- Pemerintah Kabupaten Bangka tetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria.
POSBELITUNG.CO, BANGKA – Masyarakat pesisir Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sedang dihantui wabah malaria.
Puluhan warga terserang penyakit malaria dalam beberapa hari terakhir ini.
Merebaknya kasus malaria membuat sebagian warga memilih membatasi aktivitas di luar rumah.
Sebelumnya, penyakit malaria sempat dinyatakan berhasil dieliminasi di Bangka.
Namun kini kembali muncul dan menyerang warga pesisir Pantai Batu Atap.
Di kawasan yang didominasi hunian sederhana para penambang timah tersebut, sejumlah warga dilaporkan terinfeksi malaria.
Demam tinggi, menggigil, dan tubuh lemas menjadi keluhan yang paling sering dirasakan.
Wika, warga asal Sumatera Selatan yang tinggal di Pantai Batu Atap, mengaku keluarganya ikut terdampak.
Anaknya sempat menjalani perawatan di rumah sakit setelah hasil pemeriksaan darah menunjukkan positif malaria.
“Awalnya dikira demam biasa. Setelah cek darah di puskesmas ternyata positif malaria dan dirujuk ke rumah sakit,” kata Wika kepada Bangka Pos, Selasa (2/6/2026).
Menurut dia, penyakit tersebut mulai menyebar setelah beberapa warga di lingkungan sekitar lebih dahulu terjangkit.
Wika sempat terserang malaria, namun berhasil pulih setelah mendapatkan pengobatan.
Meski telah sembuh, rasa khawatir masih membayangi warga.
“Kami masih takut keluar rumah. Tadi dapat kabar masih ada yang positif dan kondisinya menggigil,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa dirasakan Mawar. Dua anaknya dinyatakan positif malaria setelah mengalami gejala menggigil sepulang dari laut.
“Takut sekali, tapi saya berharap anak-anak cepat sembuh setelah diberi obat oleh tim medis,” katanya.
Status KLB
Meningkatnya kasus malaria membuat Pemerintah Kabupaten Bangka menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Langkah tersebut diambil untuk mempercepat penanganan sekaligus memutus rantai penularan.
Bupati Bangka Fery Insani mengingatkan bahwa daerah tersebut sebenarnya telah memperoleh status eliminasi malaria sejak 2014.
“Dulu kita sudah eliminasi malaria, tahun 2014 kita sudah dinyatakan zero malaria. Tiba-tiba muncul puluhan kasus, tentu ini menjadi perhatian serius,” ujarnya.
Lonjakan kasus diduga dipengaruhi mobilitas penduduk dan aktivitas masyarakat di kawasan pesisir.
Banyak warga tinggal di hunian sementara yang rentan terhadap gigitan nyamuk pembawa malaria.
Selain itu, kondisi cuaca yang berubah-ubah turut meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari pengasapan (fogging), pemeriksaan kesehatan massal, hingga penyediaan stok obat malaria.
Pemerintah juga memastikan seluruh biaya pengobatan pasien malaria ditanggung sepenuhnya.
Survei Darah Massal
Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka terus menggencarkan survei darah massal untuk menemukan kasus secara dini.
Kegiatan yang melibatkan Dinkes, Satpol PP, Linmas, serta perangkat daerah lainnya itu dilakukan dengan metode jemput bola dari rumah ke rumah di kawasan Pantai Batu Atap.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bangka, Anggia Murni, mengatakan seluruh rumah warga diperiksa untuk memastikan penyebaran penyakit dapat segera dikendalikan.
“Survei darah massal atau screening malaria dilakukan secara door to door. Semua rumah kami datangi dan diperiksa satu per satu,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan screening siklus kedua di Dusun Bubus, tim berhasil memeriksa 99 warga. Hasilnya, delapan orang dinyatakan positif malaria dan langsung mendapatkan pengobatan, sementara 91 warga lainnya negatif.
“Warga yang positif langsung diberikan obat pada hari yang sama,” kata Anggia.
Meski demikian, pemeriksaan belum mencakup seluruh warga. Sebagian besar kepala keluarga masih berada di lokasi tambang saat tim kesehatan melakukan pemeriksaan.
“Belum semuanya diperiksa karena banyak yang masih bekerja. Kami akan kembali lagi dan sudah berkoordinasi dengan ketua RT setempat,” ujarnya.
Pemeriksaan juga akan diperluas ke kawasan Pantai Bubus yang menjadi salah satu titik dengan jumlah kasus cukup tinggi.
Menurut Anggia, peningkatan kasus tidak hanya terdeteksi melalui screening massal.
Sejumlah warga yang sebelumnya dinyatakan negatif melalui Rapid Diagnostic Test (RDT) kemudian mengalami gejala beberapa hari setelah pemeriksaan dan berobat ke puskesmas, klinik, maupun rumah sakit.
Berdasarkan data Dinkes Bangka, jumlah kasus positif malaria hingga awal Juni telah mencapai 92 orang. Setelah ditambah hasil temuan terbaru di lapangan, total kasus mendekati 100 orang.
“Kasus tersebar di beberapa wilayah kerja puskesmas, mulai dari Pemali hingga Riau Silip. Namun yang paling banyak masih terkonsentrasi di Kecamatan Belinyu, khususnya Batu Atap dan Dusun Bubus,” jelasnya.
Menolak Diperiksa
Di tengah upaya penanganan, pemerintah menghadapi kendala karena sebagian penambang enggan menjalani pemeriksaan kesehatan.
Plt Kepala Satpol PP Kabupaten Bangka, Achmad Suherman, mengatakan sejumlah penambang menolak diperiksa karena khawatir aktivitas kerja mereka terganggu.
“Kendala kami, mereka tidak mau diperiksa. Mereka tidak ingin aktivitasnya dihentikan, sementara sebagian baru pulang bekerja pada malam hari sehingga menyulitkan pemantauan,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Satpol PP bersama perangkat RT setempat akan menghentikan sementara aktivitas penambangan pada waktu tertentu agar seluruh pekerja dapat mengikuti pemeriksaan kesehatan.
“Mulai Rabu, aktivitas penambangan akan dihentikan sementara mulai pukul 09.00 WIB agar para penambang bisa menjalani tes malaria,” tegasnya.
Ia menegaskan langkah tersebut murni untuk kepentingan kesehatan masyarakat dan bukan bagian dari penertiban aktivitas tambang.
“Ini demi keselamatan bersama. Kami berharap seluruh penambang mengikuti arahan petugas agar jumlah kasus tidak terus bertambah dan warga yang terinfeksi bisa segera mendapat pengobatan,” ujarnya.
Kolong dan Ancaman Malaria
Apakah keberadaan kolong-kolong bekas tambang timah memiliki hubungan dengan meningkatnya kasus malaria?
Anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Bangka Barat, Muhammad Putra Kusuma, menilai hubungan tersebut cukup kuat secara epidemiologis.
"Secara epidemiologis, keberadaan kolong bekas tambang timah memiliki hubungan yang cukup kuat, dan signifikan terhadap peningkatan risiko penularan malaria. Terutama bila kolong tidak direklamasi dan berada dekat permukiman atau lokasi aktivitas tambang masyarakat," kata Putra.
Menurutnya, kolong bukan penyebab tunggal. Namun, keberadaannya dapat membentuk ekosistem yang ideal bagi nyamuk Anopheles untuk berkembang biak.
"Berdasarkan kajian epidemiologi lingkungan dan entomologi kesehatan, genangan air pada kolong bekas tambang timah memiliki banyak karakteristik yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles, sebagai vektor malaria, meskipun tingkat kesesuaiannya dapat berbeda tergantung kondisi fisik, kimia, dan biologis kolong," lanjutnya.
Dalam perspektif epidemiologi, habitat larva merupakan salah satu mata rantai penting dalam proses penularan malaria.
"Kolong bekas tambang termasuk bentuk man-made breeding site atau habitat buatan manusia yang terbentuk akibat perubahan lingkungan oleh aktivitas pertambangan," terangnya.
Ia menambahkan, wilayah yang berdekatan dengan kolong umumnya menunjukkan pola penularan yang lebih tinggi dan lebih persisten dibandingkan wilayah tanpa kolong.
"Lebih persisten, dan lebih terkonsentrasi dibandingkan daerah yang tidak memiliki kolong," terangnya.
Namun pandangan berbeda disampaikan Kabid Pertambangan Mineral Logam Dinas ESDM Provinsi Bangka Belitung, Erpan Muchtedi.
"Kolong-kolong itu, tidak semua bagian kolong yang mungkin jadi habitat hidup dari larva nyamuk anopheles," kata Erpan Muchtedi, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, bagian tengah kolong yang terbuka dan terus terpapar sinar matahari justru kurang mendukung perkembangan larva nyamuk.
"Bagian tengah tidak memenuhi syarat untuk hidupnya, paling bagian pinggir vegetasinya sudah menjadi tertutup dari matahari, menjadi habitatnya. Tidak semua bagian kolong itu. Menjadi habitat nyamuk anopheles," lanjutnya.
Ia menjelaskan bahwa habitat larva nyamuk juga dapat ditemukan di kawasan lain seperti rawa maupun tepian sungai.
"Penyebab lain bisa jadi seperti pinggir sungai sungai bisa jadi habitat hidupnya, dan rawa rawa itu juga bisa menjadi habitat hidup terhadap larva anopheles ini. Mungkin perlu digaris bawahi, artinya bisa jadi kolong itu menjadi berdampak penyebaran nyamuk, tetapi bukan satu satunya," terangnya.
Karena itu, menurut Erpan, diperlukan penelitian yang lebih komprehensif untuk mengetahui hubungan sebenarnya antara kolong bekas tambang dan peningkatan kasus malaria.
"Untuk mengetahui apakah daerah yang memiliki kolong lebih rentan menjadi endemik malaria dibandingkan wilayah yang tidak memiliki kolong," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kesimpulan harus dibangun di atas data dan penelitian yang memadai.
"Jadi perlu dikaji, baru bisa menyimpulkan, dia tidak semacam pendampat atau asumsi tanpa ada penelitian di situ ada pembanding," terangnya.
Sebagai pembanding, ia mencontohkan Papua yang juga masih menghadapi persoalan malaria meskipun tidak seluruh wilayahnya memiliki aktivitas pertambangan maupun kolong bekas tambang.
"Karena kita tahu malaria ini menjadi masalah juga di Papua. Tidak semua Papua daerah tambang yang memiliki kolong bekas tambangnya, tapi ada tidak ada tambang, malaria lumayan menjadi masalah. Itu pembandingnya," katanya. (Posbelitung.co/Adi Saputra/Riki Pratama)
| Gubernur Babel Serahkan Sapi Kurban Presiden Prabowo ke Masjid Al Falah Nelayan II Sungailiat |
|
|---|
| Aipda Ferry Noviardy Anggota Inafis Polres Bangka 18 Tahun Mengurai Misteri Kematian |
|
|---|
| Komplotan Perampok Bawa Kabur 538 Balok Timah Senilai Rp 7 Miliar |
|
|---|
| Sapi Limosin Presiden Tiba, Berat Fantastis Hampir 1 Ton, Dipantau Ketat Antisipasi PMK dan LSD |
|
|---|
| Bupati Bangka Keluarkan Status KLB, 19 Warga Belinyu Positif Malaria, 15 Orang Tunggu Hasil Tes Lab |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/permukiman-warga-pesisir-pantai-batu-atap-belinyu-kabupaten-bangka.jpg)