Kongres PWI 2025

Dahlan Dahi, Mediator Kunci di Balik Terselenggaranya Kongres Persatuan PWI 2025

Kongres bersejarah ini berlangsung di BPPTIK Komdigi, Cikarang, Kabupaten Bekasi, pada 29–30 Agustus 2025.

Editor: Teddy Malaka
Istimewa
TRIBUNPONTIANAK/IST KESEPAKATAN JAKARTA - Ketua Umum PWI hasil Kongres Bandung, Hendry Ch Bangun (kiri) dan Ketua Umum PWI hasil KLB Zulmansyah Sekedang (kanan) serta anggota Dewan Pers Dahlan Dahi berfoto bersama sesuai penandatanganan Kesepakatan Jakarta, Jumat 16 Mei 2025 tengah malam, di Jakarta. Melalui Kesepakatan Jakarta, kedua pihak sepakat mengakhiri konflik melalui Kongres Persatuan. 

POSBELITUNG.CO, BEKASI – Di tengah konflik panjang yang membelah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), sosok Dahlan Dahi tampil sebagai mediator penting. Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers yang juga Chief Digital Officer (CDO) Kompas Gramedia ini menjadi penghubung dua kubu kepengurusan PWI, yakni Hendry Ch Bangun dan Zulmansyah Sekedang, hingga lahir kesepakatan menggelar Kongres Persatuan PWI 2025.

Kongres bersejarah ini berlangsung di BPPTIK Komdigi, Cikarang, Kabupaten Bekasi, pada 29–30 Agustus 2025.

Dahlan Dahi mengakui bahwa proses rekonsiliasi bukan hal mudah. Konflik internal PWI telah berlangsung lebih dari dua tahun dengan berbagai upaya mediasi yang menemui jalan buntu.

“Mei, Juni, Juli, Agustus, empat bulan, syukur bahwa kedua pihak sepakat untuk satu, sama-sama mengakui bahwa memang ada masalah di PWI, ada hasil Kongres Bandung, ada hasil KLB, sama-sama sepakat bahwa metode menyelesaikan konfliknya harus lewat Kongres, lalu diberi nama Kongres Persatuan,” ungkapnya.

Menurut Dahlan, kesepakatan itu tercapai setelah dirinya resmi masuk sebagai anggota Dewan Pers pada Mei 2025 bersama struktur baru.

Dari situ, tercetuslah “Kesepakatan Jakarta”, yang menegaskan pembentukan panitia bersama (SC dan OC) dan menentukan peserta kongres.

Fokus pada Persamaan

Meski banyak masalah hukum hingga gugatan perdata yang membelit organisasi, Dahlan menekankan pentingnya mencari titik temu.

“Saya mengerti bahwa banyak sekali perbedaan menyangkut berbagai macam isu, ada laporan pidana, ada laporan perdata di kantor polisi, ada gugatan ke Dewan Pers, dan segala macam. Tapi kita fokus kepada hal-hal yang mempersamakan mereka, yaitu keinginan untuk menyelesaikan masalah PWI melalui mekanisme Kongres,” jelasnya.

Ia berharap Kongres berjalan transparan, demokratis, dan jujur. “Supaya siapapun yang terpilih menjadi Ketua PWI diharapkan menjadi solusi bagi masalah PWI,” tambahnya.

Bagi Dahlan, PWI adalah organisasi penting dalam sejarah bangsa dan demokrasi Indonesia.

“Dan ketika saya ditanya kenapa mau mendamaikan PWI, saya berpendapat bahwa ini salah satu aset bangsa. Bahwa seperti halnya organisasi lain, PWI tidak sempurna, ada masalah sana-sini, tetapi menurut saya masalah yang ditimbulkan oleh konflik PWI lebih besar daripada kalau organisasi ini bersatu,” katanya.

Dengan persatuan PWI, ia optimistis organisasi wartawan tertua ini bisa membangun profesionalisme jurnalis serta memperkuat ekosistem media nasional dan daerah. “Semoga media tetap menjalankan fungsinya sebagai pilar keempat demokrasi,” tegasnya.

Kongres Persatuan PWI 2025 dibuka oleh Wakil Menteri Komunikasi Informasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria. Ia menegaskan bahwa Komdigi tidak melakukan intervensi, melainkan hanya memfasilitasi tempat.

“Kita menyambut baik yang dilakukan oleh teman-teman PWI untuk berkongres berkumpul bersama memperkuat tali silaturahmi dan menyelesaikan persoalan-persoalan internal organisasi,” ujarnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved