Mengupas Siapa Ayatollah Ali Khamenei dan Masa Depan Iran Pasca-Serangan Udara AS-Israel

Siapa sebenarnya Ayatollah Ali Khamenei? Simak profil mendalam Pemimpin Tertinggi Iran hinga jejak revolusinya

Tayang:
Penulis: Dedi Qurniawan | Editor: Dedi Qurniawan
DW/Tasnim
SOSOK ALI KHAMENEI - Sosok Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel di Teheran. Sabtu (28/2/2026). 

POSBELITUNG.CO -  Langit Teheran menjadi saksi berakhirnya sebuah era saat rudal Israel dan Amerika Serikat menghantam jantung pertahanan Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Kematian Ayatollah Ali Khamenei kini telah dikonfirmasi secara resmi oleh kantor berita Tasnim dan Fars, memicu gelombang duka sekaligus ketidakpastian global.

Dunia kini menoleh ke belakang, mencoba membedah siapa sebenarnya sosok Ali Khamenei yang selama hampir empat dekade menjadi poros kekuatan absolut di Republik Islam Iran.

Lahir di kota suci Mashhad pada 17 Juli 1939, Ali Khamenei tumbuh dalam kesederhanaan sebagai anak kedua dari delapan bersaudara di tengah rezim Shah yang sekuler.

Panggilannya sebagai penjaga iman muncul sangat dini, di mana ia sudah mengenakan jubah ulama pada usia 11 tahun meski sering kali menjadi sasaran ejekan teman sebaya di jalanan kota kelahirannya.

Perlawanannya terhadap Dinasti Pahlavi membawanya menjadi orang kepercayaan Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang kemudian meletuskan Revolusi Iran 1979 yang monumental.

Sebelum mendaki puncak kekuasaan sebagai Rahbar, Khamenei mengasah ketajaman politiknya sebagai Presiden ke-3 Iran pada tahun 1981, sebuah periode yang penuh dengan gejolak perang dan suksesi.

Sejak tahun 1989, ia mengambil tongkat estafet kepemimpinan tertinggi dan menjelma menjadi sosok yang suaranya lebih kuat daripada Presiden mana pun di Iran.

Khamenei bukan sekadar politisi, ia adalah Panglima Tertinggi angkatan bersenjata yang memegang kendali mutlak atas nuklir, intelijen, hingga kebijakan luar negeri yang agresif.

Di balik ketegasannya menantang Barat, ia dikenal oleh lingkaran dekatnya sebagai pria pendiam penyuka puisi yang mampu menggerakkan jutaan orang hanya dengan satu perintah.

Namun, pengabdian panjang selama 37 tahun itu berakhir tragis di dekat kantornya sendiri setelah eskalasi militer dipicu oleh kegagalan kesepakatan nuklir dengan Washington.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi operasi tersebut sebagai langkah drastis untuk melenyapkan ancaman langsung terhadap kedaulatan zionis.

Garda Revolusi Iran (IRGC) tidak tinggal diam dan langsung membalas dengan menghujani pangkalan Amerika di Bahrain, Qatar, dan UEA menggunakan armada drone serta rudal balistik.

Kini, bendera setengah tiang berkibar di seluruh Iran sebagai tanda dimulainya 40 hari masa berkabung nasional bagi sang pemimpin yang tak tergantikan itu.

Sosok Pengganti

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved