Kronologis Aiman Wicaksono Bentak dan Usir Abu Janda dari Studio

Aiman naik pitam melihat Abu Janda yang terus memotong pembicaraan dan melontarkan kata-kata kasar kepada narasumber lain.

Penulis: Evan Saputra | Editor: Evan Saputra
Tangkap layar YouTube Kompas TV
Aiman naik pitam melihat Abu Janda yang terus memotong pembicaraan dan melontarkan kata-kata kasar kepada narasumber lain.. Foto Permadi Arya alias Abu Janda. 

POSBELITUNG.CO - Aksi tegas jurnalis senior Aiman Wicaksono mendadak viral setelah dirinya mengusir paksa pegiat media sosial, Permadi Arya alias Abu Janda, dari sebuah diskusi televisi.

Suasana diskusi bertajuk "Rakyat Bersuara" tersebut berubah mencekam saat Aiman naik pitam melihat Abu Janda yang terus memotong pembicaraan dan melontarkan kata-kata kasar kepada narasumber lain.

Tanpa kompromi, Aiman langsung menunjuk pintu keluar studio dan memerintahkan Abu Janda meninggalkan ruangan demi menjaga ketertiban dialog.

Berikut ulasan lengkapnya

Baca juga: Netanyahu Tewas atau Melarikan Diri? Menelusuri Fakta di Balik Rumor Viral Hilangnya Sang PM

Media sosial dihebohkan dengan potongan video pengusiran Abu Janda oleh jurnalis senior Aiman Wicaksono dalam sebuah diskusi televisi.

Seasana yang semula membahas geopolitik berubah menjadi ricuh setelah Abu Janda kehilangan kendali dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas kepada lawan bicaranya.

Tak tinggal diam, Aiman langsung bertindak tegas dengan meneriaki Abu Janda untuk meninggalkan ruangan dialog.

Berikut ulasan lengkapnya

Video detik-detik Permadi Arya alias Abu Janda diusir Aiman Wicaksono dalam acara Rakyat Bersuara di iNews TV viral di media sosial.

Dalam acara itu, Abu Janda sempat memaki-maki sejumlah narasumber.

Bahkan, ia berkat kasar kepada Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari dan Mantan Duta Besar Indonesia untuk Tunisia, Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti.

Video itu mendapat beragam respon dari warganet.

Ada yang menghujat, bahkan meminta agar Abu Janda ini diproses hukum.

Dalam video yang viral itu, terekam bagaimana nada bicara Aiman meninggi.

"Kalau Anda tidak bisa tertib, keluar! Keluar.. Keluar...." terak Aiman dengan lantang.

Kronologis Abu Janda diusir Aiman

Kronologis pengusiran Abu Janda dari acara televisi bermula ketika para narasumber ini membahas kondisi geopolitik, khususnya menyangkut perang Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Dalam acara itu, Abu Janda menilai sentimen anti-Amerika Serikat di Indonesia muncul karena kebencian tanpa melihat sisi lain sejarah.

Ia menyebut Amerika Serikat memiliki peran besar dalam proses pengakuan kedaulatan Indonesia. 

"Intinya sentimen anti Amerika ini luar biasa sekali di negara ini dan semua didasari sama kebencian buta tanpa mencoba untuk mencoba adil seperti yang disarankan Al-Maidah ayat 8," kata Abu Janda, dilansir dari Tribun Jakarta.

Ia kemudian menyinggung situasi setelah Proklamasi 1945 ketika Belanda kembali datang bersama pasukan NICA.

Menurutnya, posisi militer Belanda saat itu jauh lebih kuat dibandingkan Indonesia.

"Bahkan Jenderal Sudirman pun hanya bisa melawan Belanda dengan taktik gerilya, hit and run. Apakah dengan hit and run itu efektif untuk mengusir Belanda dari bumi pertiwi? I don't think so," ujarnya.

Abu Janda lalu menyebut Belanda akhirnya meninggalkan Indonesia karena tekanan dari Amerika Serikat.

"Tiba-tiba tahun 1949 Belanda mudik. Karena siapa? Karena ditekan Amerika. Jadi tahun 1949 Amerika itu ngancem ke Belanda, kalau masih jajah Indonesia akan disetop bantuan Amerika," kata dia.

Ia juga menyinggung peran Amerika dalam mendorong Belanda mengikuti Konferensi Meja Bundar.

"Bukan cuma itu aja, Amerika itu nyeret Belanda ke Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Amerika juga bikin veto, bikin resolusi di Dewan PBB untuk menekan agar Belanda cabut dari Indonesia," ucap Abu Janda.  

Marah Dengar Pandangan Berbeda

Prof Ikrar Nusa Bhakti kemudian memberikan pandangan berbeda.

Ia menilai keterlibatan Amerika pada masa itu tak lepas dari kepentingan geopolitik, khususnya kekhawatiran terhadap pengaruh komunisme.

"Amerika kenapa turun tangan pada 1948–1949 itu karena ketakutan bahwa Indonesia akan jatuh ke tangan komunis," kata Ikrar.

Ia bahkan menyarankan agar melihat penjelasan tersebut dalam kajian sejarah.

"Coba anda baca Revolution and Nationalism in Indonesia, tulisan Kahin. Di situ dijelaskan mengapa Amerika turun tangan karena ketakutan Indonesia akan jatuh ke tangan komunis," ujar Ikrar.

Dalam perdebatan itu, Ikrar juga mengingatkan bahwa kebijakan Amerika terhadap Indonesia tidak selalu berpihak.

"Tapi jangan anda pikir, Amerika itu negara yang baik ya," kata Ikrar.

Mendengar ucapan Ikrar, amarah Abu Janda langsung meledak.

Abu Janda bahkan memotong penjelasan Ikrar.

"Saya juga cerita dulu. Di zaman...," ujar Ikrar terputus.

"Gue tidak ada urusan sama perasaan lo Pak. Perasaan lo gue ada urusan," kata Ambu Janda.

Ikrar lalu meminta Abu Janda untuk tenang dan mendengar penjelasannya.

Tak peduli ucapan Ikrar, Abu Janda terus berbicara dengan nada tinggi.

"Katanya anda mau belajar sejarah ya," ucap Ikrar.

"Jagoan gue daripada lo!" kata Abu Janda.

Aiman lalu berusaha menengahi dan memberikan kesempatan Ikrar untuk menjelaskan.

"Oke silahkan Prof," kata Aiman.

Namun Abu Janda masih terus berbicara, dan mengeluarkan pernyataan yang tendensius.

"Lu terlalu baper Pak. Dari tadi kalau lu komentar gue perhatiin lu terlalu baper," kata Abu Janda.

"Enggak, gimana baper," jawab Ikrar tenang.

"Bang Ferry enggak suka sama Trump. Lu enggak suka sama Israel. Itu perasaan lu semua. Gue enggak ada urusan sama perasaan lo. Anj*r," ucap Abu Janda.

Setelah ditegur dan diminta tenang oleh Aiman, Abu Janda akhirnya diam.

"Jangan menggunakan kata-kata itu," tegur Ikrar terhadap Abu Janda.

Ikrar kemudian mengatakan Amerika Serikat adalah pihak yang membantu menyokong adanya pemberontakan-pemberontakan daerah.

"Bagaimana Amerika Serikat itu awal-awal kemerdekaan Indonesia juga membantu pemberontakan daerah di PRRI dan Permesta," ujarnya.

Menurut Ikrar, kebijakan Amerika terhadap Indonesia juga berubah ketika John F. Kennedy menjadi Presiden Amerika Serikat pada 1961.

"Ketika Kennedy dari Partai Demokrat terpilih menjadi presiden pada 1961, ada perubahan besar kebijakan Amerika terhadap Indonesia. Mengapa kemudian Kennedy membela Indonesia dalam kaitannya dengan Irian Barat," kata dia.

Akhirnya Diusir
Feri Amsari lalu menyoroti langkah Prabowo Subianto yang bergabung dengan Board of Peace (BOP) yang didirikan oleh Donald Trump.

Menurut Feri Amsari hal tersebut tidak etis, mengingat dalam BOP turut bergabung Israel.

Israel sendiri dinilai telah melakukan kejahatan perang di Palestina, termasuk serangan terhadap warga sipil dan anak-anak. 

Feri Amsari kemudian mengingatkan jasa Palestina terhadap Indonesia.

Palestina adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto pada 1945. 

Tak cuma itu, Feri Amsari juga membahas soal Muhammad Ali Taher.

Muhammad Ali Taher adalah saudagar kaya dan tokoh media asal Palestina (sering disebut sebagai bangsawan/raja media) yang menyumbangkan seluruh uangnya di Bank Arabia untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. 

Ia aktif melobi Liga Arab dan membantu pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda di Timur Tengah.

"Kalau tidak ada bangsawan dari Palestina yang menyumbang untuk kemerdekaan bangsa ini, melalui Agus Salim belum tentu juga kita merdeka," kata Feri Amsari

"Jadi kalau main hutang-hutangan sejarah, sebenarnya kita punya hutang besar terhadap bangsa Palestina," imbuhnya.

Mendengar pernyataan tersebut, Abu Janda langsung mengamuk.

Ia menilai pernyataan Feri Amsari adalah hoaks.

"Hutang apaan bangsa kita kemerdekaan Palestina, hutang apaan bang? Jangan ngaco!" kata Abu Janda.

"Gue kasih tau ya, biar lo tau. Ada hoax yang bilang katanya, Palestina negara pertama yang ngakui kemerdekaan Indonesia itu hoax," imbuhnya.

Menanggapi hal itu, Feri Amsari menyebut Abu Janda terlalu bersemangat namun keliru dalam memahami persoalan.

"Semangat betul dengan salahnya. Yang memberikan sumbangan ke pada Agus Salim adalah bangsawan Palestina untuk bergerak di Timut Tengah dalam upaya kampanye Kemerdekaan, itu bukan hoaks" kata Feri.

Perdebatan kemudian semakin memanas ketika Abu Janda kembali memotong pembicaraan dengan nada yang dianggap kasar.

Melihat situasi diskusi yang semakin tidak kondusif, Feri Amsari kemudian meminta Aiman Widjaksono sebagai pemandu acara untuk mengambil tindakan. Apalagi Abu Janda sesekali menggunakan kata 'anjir' saat debat.

"Saya ingatkan, ini ruang publik, dengan mengungkapkan kekasaran, bang Aiman, omongan seperti itu wajib hukumnya bagi Anda mengusir dia" kata Feri.

Menanggapi hal tersebut, Abu Janda justru menyatakan dirinya siap meninggalkan forum.

"Gak usah lu husir, dengan senang hati, gue pergi" celetuk Abu Janda.

Pernyataan itu langsung dibalas oleh Feri Amsari dengan sindiran.

"Silahkan, dengan senang hati. Ketololan tidak dibutuhkan" sindir Feri.

Mendengar dirinya disebut tolol, Abu Janda semakin emosi dan melontarkan makian kepada Feri Amsari.

"Elu yang lebih tol*l gobl*k" kata Abu Janda.

Melihat situasi semakin tidak terkendali, Aiman Widjaksono akhirnya meminta Abu Janda keluar dari ruang dialog.

"Engga boleh, engga boleh, kalau Anda tidak bisa tertib, keluar! Keluar.. Keluar...." terak Aiman dengan lantang. 

Profil Abu Janda
Permadi Arya atau Abu Janda memiliki nama asli Heddy Setya Permadi.

Ia lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 14 Desember 1973.

Abu Janda merupakan anak dari pasangan HM Sudjatna dan Lina Herlin.

Permadi menempuh pendidikan Diploma Ilmu Komputer Informatic It School Singapura (April 1997) dan menjadi Sarjana Business & Finance University of Wolverhampton Inggris (1999).

Karier

Abu Janda menjadi buzzer sejak tahun 2015, tetapi baru full menjadi buzzer pada tahun 2017.

Pada 2018, ia bergabung menjadi buzzer dan influencer tim sukses Joko Widodo di Pilpres 2019.

Sebelum menjadi buzzer, Abu Janda bekerja sebagai karyawan di berbagai perusahaan.

Mulai dari perusahaan sekuritas, bank swasta hingga tambang batu bara (1999-2015).

Pegiat sejarah dan seorang reenactor

Namun jauh sebelum dikenal sebagai pegiat media sosial, Permadi juga seorang reenactor, seorang penghobi reka ulang sejarah atau Historical Re-enactment dengan memerankan figur tertentu.

Permadi kerap memeragakan aksi prajurit dari negara lain dan pelbagai zaman, dari prajurit Romawi Kuno, kerajaan Inggris abad pertengahan, tentara pendudukan Jepang, hingga tentara Nazi Jerman.

Paling kontroversial, pernah beredat foto Permadi Arya tengah melakukan salam hormat Nazi (Hitlergruss) di samping patung lilin pemimpin Nazi, Adolf Hitler, yang dilarang di negara-negara Eropa. 

Tak hanya itu, dia juga seorang kolektor benda antik militer

(Tribunnews/Kompas)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved