Iran Berunding dengan Niat Baik, Tapi Amerika Serikat Sering Lakukan Tipu Daya

Iran menyatakan mereka memiliki niat baik untuk berunding tapi Amerika Serikat punya rekam jejak kerap melakukan tipu daya.

Penulis: Dedi Qurniawan | Editor: Dedi Qurniawan
Dok istimewa/X @iribnews_irib
Tangkapan layar rekaman detik-detik pesawat A-10 ‘Warthog’ milik Amerika Serikat ditembak jatuh oleh pertahanan udara Iran, Jumat (3/4/2026), yang dirilis Angkatan Udara Iran. Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, juga menyiarkan seruan sayembara berhadiah untuk menangkap pilot AS. 

POSBELITUNG.CO - Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di tengah gencatan senjata diprediksi berlangsung alot.

Masing-masing pihak akan bersikeras agar tuntutannya dipenuhi.

Adapun perundingan akan digelar di Islamabad, Pakistan.

Iran menyatakan mereka memiliki niat baik untuk berunding tapi Amerika Serikat punya rekam jejak kerap melakukan tipu daya.

Iran pun mengancam akan ada tindakan tegas jika Amerika terbukti melakukan tipu daya.

 Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Teheran datang ke meja perundingan dengan niat baik dan kesiapan untuk mencapai kesepakatan.

Namun, ia memberikan catatan tebal mengenai rekam jejak diplomasi Amerika yang dianggapnya sering kali berakhir dengan pengkhianatan.

"Pengalaman kami bernegosiasi dengan Amerika selalu disertai kegagalan dan pelanggaran komitmen. Dua kali dalam kurang dari setahun, di tengah proses negosiasi, mereka justru menyerang kami," ujar Ghalibaf setibanya di Islamabad, seperti dikutip NBC News.

"Kami punya niat baik, tapi kami sama sekali tidak punya kepercayaan," katanya lagii.

Ia memperingatkan, jika Washington berniat menjadikan negosiasi ini hanya sebagai "operasi tipu daya", Iran siap menempuh jalur lain untuk mempertahankan hak nasionalnya.

 Salah satu titik krusial yang diyakini bakal menyandera perundingan ini adalah perbedaan pandangan yang tajam mengenai Selat Hormuz.

Jalur perdagangan minyak paling vital di dunia ini menjadi ajang "adu urat saraf" antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Dalam sebuah pesan yang menandai 40 hari wafatnya martir Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Iran akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke fase baru.

Iran menuntut ganti rugi penuh atas kerusakan perang, biaya pemulihan korban luka, hingga uang darah (diyat) bagi para martir.

"Kami tidak mencari perang, tapi kami tidak akan melepaskan hak-hak sah kami. Seluruh Front Perlawanan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan," tegas Mojtaba.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved