BPS Ungkap China Jadi Penyumbang Defisit Perdagangan Terbesar RI di Kuartal I-2026
BPS mencatat China menjadi penyumbang defisit perdagangan terbesar Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar US$ 5,18 miliar, disusul Australia & Prancis
Penulis: M Zulkodri | Editor: M Zulkodri
Ringkasan Berita:
- BPS mengungkap defisit perdagangan Indonesia terbesar berasal dari China pada kuartal I-2026.
- Meski begitu, neraca perdagangan nasional masih mencatatkan surplus.
POSBELITUNG.CO--Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sejumlah negara masih menjadi penyumbang utama defisit perdagangan Indonesia sepanjang kuartal I tahun 2026.
Dari data yang dirilis, China menempati posisi teratas sebagai negara dengan defisit perdagangan terbesar terhadap Indonesia.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa sepanjang periode Januari hingga Maret 2026, defisit perdagangan Indonesia dengan China mencapai angka signifikan.
“Negara dengan penyumbang defisit terdalam, terutama Tiongkok, defisit sebesar US$ 5,18 miliar,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (4/5/2026).
Defisit Didominasi Impor Mesin dan Kendaraan
Menurut BPS, defisit perdagangan dengan China didorong oleh tingginya impor sejumlah komoditas utama.
Di antaranya adalah mesin dan peralatan mekanik (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85), serta kendaraan dan komponennya (HS 87).
Ketergantungan terhadap produk-produk tersebut menjadi salah satu faktor utama yang memperlebar selisih antara nilai impor dan ekspor Indonesia terhadap negara tersebut.
Australia dan Prancis Juga Jadi Penyumbang Defisit
Selain China, Australia dan Prancis juga tercatat sebagai negara penyumbang defisit perdagangan Indonesia.
Defisit dengan Australia sebagian besar berasal dari impor logam mulia dan perhiasan (HS 71), sereal (HS 10), serta bahan bakar mineral (HS 27).
Sementara itu, defisit dengan Prancis dipicu oleh impor kendaraan udara dan komponennya, mesin dan peralatan mekanis, serta produk farmasi.
Defisit Nonmigas Masih Tinggi
Jika dilihat dari sektor nonmigas, BPS mencatat tiga negara dengan kontribusi defisit terbesar masih didominasi oleh China dengan nilai mencapai US$ 5,52 miliar.
Disusul Australia sebesar US$ 2,38 miliar dan Prancis sebesar US$ 0,63 miliar.
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan defisit tidak hanya berasal dari sektor energi, tetapi juga dari perdagangan barang nonmigas yang cukup besar.
Neraca Perdagangan Tetap Surplus
Meski menghadapi defisit dengan beberapa negara, secara keseluruhan kinerja perdagangan Indonesia pada kuartal I-2026 masih mencatatkan surplus.
| TPP ASN Bangka Tengah Tahun 2026 Dipangkas untuk Tutupi Defisit Anggaran, Maksimal 11,5 Persen |
|
|---|
| Pangkalpinang Fokus Gali Potensi Lokal Hadapi Defisit APBD 2026 |
|
|---|
| Harga Cabai Picu Tanjungpandan Inflasi 0,45 Persen, Kepala BPS Belitung Wanti-wanti Faktor Cuaca |
|
|---|
| Babel Tempati Urutan Kedua Provinsi Paling Gemar Membaca Versi Rilis BPS 2024 |
|
|---|
| Bukan Selingkuh, Ini 5 Penyebab Utama Perceraian di Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/ilustrasi-distribusi-peti-kemas.jpg)