Bank Dunia Prediksi Defisit APBN RI Tetap Tinggi hingga 2028, Bunga Utang Makin Membebani

Bank Dunia memperkirakan defisit APBN Indonesia bertahan di level 2,8 persen hingga 2028. Kenaikan subsidi, beban bunga utang menjadi tekanan fiskal

Tayang:
Penulis: M Zulkodri | Editor: M Zulkodri
KOMPAS/PRIYOMBODO
Bank Dunia memperkirakan defisit APBN Indonesia bertahan di level 2,8 persen hingga 2028. Kenaikan subsidi, program prioritas pemerintah, dan beban bunga utang menjadi tekanan fiskal utama. 

Ringkasan Berita:
  • Bank Dunia memperingatkan kondisi fiskal Indonesia masih menghadapi tekanan dalam beberapa tahun ke depan. 
  • Defisit APBN diproyeksikan bertahan di kisaran 2,8 persen terhadap PDB hingga 2028, sementara beban pembayaran bunga utang terus meningkat dan menyerap porsi lebih besar dari penerimaan negara. 
  • Pemerintah juga dituntut menjaga keseimbangan anggaran di tengah tingginya kebutuhan subsidi dan program prioritas nasional.

 

BANGKAPOS.COM--Bank Dunia memperkirakan kondisi fiskal Indonesia masih akan menghadapi tekanan dalam beberapa tahun ke depan.

Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diproyeksikan tetap berada di level tinggi dan mendekati batas maksimal yang diperbolehkan undang-undang, seiring meningkatnya kebutuhan belanja subsidi serta pendanaan berbagai program prioritas pemerintah.

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia memperkirakan defisit fiskal Indonesia mencapai 2,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026.

Angka tersebut diproyeksikan bertahan pada level yang sama pada 2027 sebelum turun tipis menjadi 2,7 persen pada 2028.

Bank Dunia menilai tekanan terhadap APBN berasal dari kombinasi meningkatnya kebutuhan belanja negara dan berbagai program prioritas yang memerlukan dukungan anggaran besar dalam beberapa tahun mendatang.

"Defisit fiskal tetap berada dekat dengan batas maksimum yang ditetapkan undang-undang dalam jangka menengah," tulis Bank Dunia dalam laporannya yang dikutip Kamis (11/6/2026).

Meski demikian, lembaga keuangan internasional tersebut melihat adanya peluang perbaikan pada sisi penerimaan negara.

Menurut Bank Dunia, reformasi administrasi perpajakan yang sedang dijalankan pemerintah mulai menunjukkan hasil positif dan berpotensi meningkatkan pendapatan negara dalam beberapa tahun ke depan.

Selain itu, berkurangnya penumpukan restitusi pajak juga diperkirakan membantu memperkuat penerimaan negara.

Dalam jangka pendek, penerimaan negara masih mendapat dukungan dari tingginya harga sejumlah komoditas ekspor unggulan Indonesia.

Komoditas seperti batu bara, gas alam cair (LNG), nikel, emas, dan minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan tetap memberikan kontribusi positif terhadap kas negara.

Bank Dunia memperkirakan tingginya harga komoditas tersebut dapat memberikan dampak bersih sekitar 0,4 persen terhadap PDB melalui peningkatan penerimaan negara.

Namun di sisi lain, tekanan fiskal tidak hanya berasal dari belanja pemerintah yang terus meningkat. Bank Dunia juga menyoroti kenaikan beban pembayaran bunga utang yang diperkirakan akan terus membesar dalam beberapa tahun mendatang.

Berdasarkan proyeksi yang disampaikan, rasio pembayaran bunga utang terhadap penerimaan negara diperkirakan meningkat dari 18,7 persen pada 2025 menjadi 19,2 persen pada 2028.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved