Video

Wali Kota Banda Aceh Menangis soal Donasi Bencana, Ini Profil Singkatnya

Illiza menilai, bantuan dari masyarakat seharusnya diapresiasi, bukan dibebani syarat tambahan.

Tayang:
Penulis: Ilham Pratama | Editor: Rusaidah

Ringkasan Berita:
  • Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal menangis terkait pernyataan menteri sosial penggalangan dana harus izin pemerintah dan diaudit.
  • Wali Kota Illiza menilai kerja keras masyarakat dalam membantu korban seharusnya mendapat apresiasi.
  • Illiza menilai, tanpa status darurat nasional, rehabilitasi dan pembangunan rumah baru harus menunggu anggaran tahun 2026.

 

POSBELITUNG.CO - Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal (53), menanggapi keras pernyataan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) terkait aturan bahwa artis dan influencer harus mendaftar dan diaudit sebelum melakukan penggalangan dana untuk korban bencana. 

Respons tersebut ia sampaikan dengan penuh emosi hingga menitikkan air mata saat rapat dengar pendapat bersama Komisi VIII DPR RI di Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Rabu (10/12/2025).

Illiza menilai, bantuan dari masyarakat seharusnya diapresiasi, bukan dibebani syarat tambahan.

“Belum lagi hari ini, mohon maaf, mitra kerja Mensos menyampaikan statement, apabila artis, influencer (donasi), daftar dulu nanti diaudit, ini juga apa?” ucapnya sambil menangis.

“Harusnya mereka masyarakat yang sudah berjibaku membantu kami itu diapresiasi pak,” lanjutnya.

Baca juga: Dearly Djoshua Mesra Lagi dengan Ari Lasso Meski Sebelumnya Tolak Balikan

Selama 14 hari terakhir, masyarakat bersama pemerintah daerah terus mengevakuasi korban dan membersihkan puing rumah warga. Illiza menggambarkan betapa berat situasi di lapangan.

“Kalau itu keluarga kita, anak kita, ibu kita, bayangkan mereka tidak difardhukifayakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, distribusi logistik terhambat karena akses jalan lintas masih rusak.

“Paling saya mampu bawa berapa, satu-dua tangki, setelah itu habis,” katanya.

Tanpa akses jalan yang memadai, masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih dan bantuan esensial lainnya.

Illiza menambahkan bahwa pemerintah daerah tidak mungkin menyiram satu per satu rumah warga yang tertimbun lumpur. 

Bahkan dengan alat berat, halaman masjid pun belum selesai dibersihkan. Abrasi sungai juga telah menghancurkan sejumlah rumah sehingga warga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi.

Baca juga: Heboh Isu Rumah Tangga BCL Goyah, Unggahan Romantisnya Bareng Tiko Jadi Sorotan

Menurut Illiza, tanpa status darurat nasional, proses rehabilitasi dan pembangunan rumah baru harus menunggu anggaran tahun 2026. Ia mencontohkan pengalaman Aceh saat tsunami yang membutuhkan badan khusus untuk rekonstruksi.

“Kalau tidak, maka menunggu tahun anggaran dan penggunaannya juga harus tender,” jelasnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved