Peta Belitung Selalu Tertutup Awan Sejak 1983
Posisi awan rendah itu, setiap tahun tidak mengalami perubahan, sehingga menjadi ancaman bagi Kabupaten Belitung.
Penulis: Disa Aryandi |
Laporan Wartawan Pos Belitung Disa Aryandi
POSBELITUNG.COM, BELITUNG - Tak biasa! Sejak tahun 1983 usai munculnya Peta Citra Satelit, membuat Pulau Belitung, hingga kini belum bisa memiliki peta 1:5000 (satu berbanding 5000). Pasalnya, pengambilan foto pada posisi awan terendah ini selalu tertutup awan.
Posisi awan rendah itu, setiap tahun tidak mengalami perubahan, sehingga menjadi ancaman bagi Kabupaten Belitung.
Posisi awan rendah tersebut diketahui, setelah Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Belitung berencana meminta penyediaan peta dasar 1:5000.
Permintaan yang ditujukan ke Lembaga Penerbang dan Antariksa Nasional (Lapan) serta Badan Informasi Geospasial (BIG), lantas tidak bisa dipenuhi.
Padahal peta dasar 1:5000 itu, sangat dibutuhkan untuk penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Sehingga untuk penyelesaian RDTR di empat Kecamatan di Belitung, hingga kini belum bisa terpenuhi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupan Belitung.
"Permasalahan di Belitung sampai hari ini, itu. Peta dasar 1:5000 itu, ketika di potret melalui citra satelit, selalu tertutup awan. Persoalannya kami hanya boleh bekerja, di atas peta yang dikeluarkan dari dua lembaga itu," kata Kabid Fisik dan Prasarana Bappeda Kabupaten Belitung, Holmes R S Pangaribuan kepada posbelitung.com, Rabu (16/3/2016).
Holmes mengatakan, telah melakukan koordinasi dengan Lapan dan BIG sejak tahun 2011, untuk meminta peta 1:5000. Namun yang bisa disediakan, yaitu Kecamatan Tanjungpandan dan untuk empat Kecamatan lainnya, Sijuk, Badau, Membalong serta Selat Nasik belum bisa dipenuhi.
"Maka nya kami sudah buatkan RDTR untuk Tanjungpandan, tinggal menunggu substansi lainnya. Kecamatan lainnya belum bisa dikerjakan, karena dari mulai adanya peta Citra Satelit tahun 1983 sampai sekarang, persoalan pulau Belitung ini selalu di tutup awan," ujarnya.
"Kami punya peta itu, cuma tidak bisa menggambarkan detail dari lokasi. Karena tertutup awan, dibalik awan itu kami tidak mengetahui ada apa ditempat itu. Kadang-kadang saya dan teman-teman sempat berpikir, kalau itu takdir. Tapi itulah yang terjadi."
Menurut Holmes, pihaknya sempat berfikir untuk menggunakan melalui foto udara, agar bisa mendapatkan peta 1:5000. Namun untuk biaya pengambilan foto itu, sangat mahal dan perlu proses panjang. Salah satu cara lainnya, yaitu dengan memanfaatkan teknologi drone.
"Cuma jadi kendala lagi, dua alternatif ini belum bisa dipergunakan untuk peta dasar. Nah itu terkendala aturan lagi yang susah, maka nya sampai hari ini kami belum menyiapkan RDTR tersebut," jelasnya.
Tahun 2014 - 2015, tim pembentukan RDTR sempat membatalkan kegiatan lantaran belum memiliki Peta Dasar 1:5000. Hingga kini solusi yang bisa dilakukan kepada Lapan dan BIG, hanya meminta tolong dibantu tentang penyediaan peta tersebut.
"Soalnya saya sendiri sudah pernah berkoordinasi dengan kementerian PU, selama tidak dikerjakan di atas peta 1:5000, itu tidak boleh dilakukan. 2015 kemarin, sempat disampaikan ke saya bahwa, sudah melakukan pemotretan di Kabupaten, tapi hasil tetap sama masih tertutup awan dan tetap tidak memenuhi standar teknis untuk dilakukan penyusunan RDTR," pungkasnya. (N3)
Selengkapnya baca edisi cetak POS BELITUNG Kamis (17/3/2016).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/peta-belitung_20160317_090923.jpg)