Breaking News:

Kelapa Kampit Menyimpan Situs Tambang-dalam Timah Terbesar di Indonesia?

Sewaktu Jepang tiba di Tanjungpandan pada tahun 1942, tambang-dalam Kelapa Kampit sengaja dibanjiri. Hal ini adalah sabotase dari pihak perusahan

IST
Pengunjung sedang melakukan kegiatan camping dalam pengawasan komunitas Kompak di tepi Danau Kawan Open Pit Nam Salu, Gunong Kik Karak Kelapa Kampit. 

Laporan wartawan Pos Belitung, Wahyu Kurniawan

POSBELITUNG.COM, BELITUNG - ’Tambang-dalam Kelapa Kampit boleh dikatakan merupakan satu-satunya tambang-dalam yang pernah ada dalam penambangan timah di Indonesia, walau secara teknis pernah ada tambang dalam lain, yakni tambang Tikus yang berskala jauh lebih kecil. Sebelum Perang Dunia II tambang ini menghasilkan sekitar 2.000 ton per tahun,”

Demikian catatan yang terangkum dalam buku Sejarah Timah Indonesia karya Sutedjo Sujitno terbitan tahun 1996.

Tambang-dalam Kelapa Kampit dibuka oleh sebuah Kongsi Cina tahun 1906 pada masa NV Billiton Maatschappij (BM). Mereka membuka shaft pertama pada kedalaman 51 meter dan berhasil menemukan urat timah baru yang kaya. Dalam waktu dua tahun pertamanya, tambang-dalam Kelapa Kampit menghasilkan 1.617 pikul timah.

Penyangga di dalam tambang Kelapa Kampit. Foto http://media-kitlv.nl/

Hasil tersebut mendorong perusahaan untuk melakukan penelitian yang lebih intensif. Sebuah shaft eksplorasi baru kemudian dibuka tahun 1908 yang berjarak 110 meter dari shaft pertama.

Pada kedalaman 26 meter dari shaft eksplorasi tersebut dipasang level I dan level II, di mana kemudian ditemukan urat timah kaya dengan kadar 2-4 persen.

Tahun 1910 dicapai kedalaman 48 meter dan kembali ditemukan urat timah yang kaya tapi banyak mengandung mineral sulfida besi atau pyrite. Tiga tahun kemudian atau pada 1913 kedalaman mencapai 91 meter dan dibuat level III dan level IV. Namun sayang pada kedua level ini tidak banyak ditemukan urat timah yang kaya.

Pembangunan tambang-dalam Kelapa Kampit dihentikan pada 1915 karena alasan biaya eksploitasi terlalu mahal. Alasan lainnya karena teknik pencucian untuk membuang pyrite tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.

Halaman
1234
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved