Ada Kalajengking Emas Bikin Geger Warga Pasca Kebakaran Pura Dalem Abiansemal

Namun, pihaknya tetap tidak bisa menghindarkan kerugian yang besar lantaran beberapa hal.

Tribun Bali/ I Wayan Eri Gunarta
Puing-puing pelinggih dan tapakan yang hangus terbakar di Pura Dalem Abiansemal, Badung, Bali, Sabtu (18/6/2016). 

Kebakaran di Pura Dalem Abiansemal, Badung, Bali, Sabtu (18/6/2016). (Istimewa)

Sementara tapakan yang ludes dilahap api di antaranya, Ratu Gede (barong bangkal), Ratu Ayu (barong macan), Ratu Gni, Ratu Naga, Ratu Lutung dan Ratu Paksi.

“Hanya pererai (kepala) Ratu Bangkal saja yang tersisa. Itu pun sudah hangus. Sementara yang lainnya sama sekali tidak tersisa sama sekali,” ucap Mangku Desa Arini.

Ketika berada di TKP dan melakukan evakuasi terhadap badan tapakan yang tengah hangus terbakar, Kapolsek Abiansemal Komisaris Polisi (Kompol) AA Oka Kusuma tanpa sengaja melihat seekor kalajengking berwarna emas.

Anehnya, kalajengking tersebut ditemukan dalam keadaan hidup di dalam Gedong Ratu Gede yang telah hangus terbakar.

Melihat hal tersebut, Kompol Kusuma lalu melaporkan ke warga.

Dan, warga pun terkejut sekaligus bersyukur.

Sebab, menurut para pemangku, kalajengking tersebut merupakan sebuah cihna atau kode bahwa Ida Bhatara masih berstana di pelinggih yang tinggal puing tersebut.

“Ini merupakan cihna. Bhatara ingin memberitahu kepada kita bahwa beliau tidak hilang. Beliau masih di sana. Hanya saja, lewat kebakaran ini beliau ingin agar raganya segera diperbaharui. Sebab, memang sebelum kebakaran ini, kami memang akan menggelas ngodak (memperbarui raga) semua tapakan,” ujar seorang pemangku.

Setelah api berhasil dipadamkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Badung menyebut bahwa kerugian material yang diakibatkan kebakaran itu mencapai Rp 2 miliar.

Kepala Seksi Operasi Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Badung, I Ketut Nadu mengatakan, pihaknya telah mengerahkan delapan unit mobil damkar berdaya tampung 4.000 liter air.

Namun, pihaknya tetap tidak bisa menghindarkan kerugian yang besar lantaran beberapa hal.

Antara lain, informasi yang telat ke Dinas Damkar, dan sulitnya mencari sumber air.

“Kami baru dapat info jam lima pagi, sementara kejadian sudah sejak jam dua. Saat sampai di lokasi, 80 persen pura sudah ludes. Kami juga kesulitan mencari pasokan air. Sebab tidak ada sungai, sementara debit air dari hydrant kecil, sebab di pagi hari pengguna air kan banyak. Meski begitu, setidaknya kami bisa mengisolasi, sehingga api tak merembet ke luar pura,” ucap Ketut Nadu.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved