Sejarah Belitung Timur - Ini Kisah Perjalanan yang Menginspirasi Berdirinya Kota Manggar

Sejarah berdirinya kota Manggar berkaitan erat dengan pembukaan distrik tambang timah baru NV Billiton Maatschappij (B.M) di wilayah timur Pulau Belit

Sejarah Belitung Timur - Ini Kisah Perjalanan yang Menginspirasi Berdirinya Kota Manggar
net

”30 Juli kami mulai perjalanan tiga hari melalui rimba, ladang-ladang tua, jalan setapa yang buruk yang membawa kami ke distrik tambang yang dibuka oleh Den Dekker dalam tahun 1861 di bagian timur dari pulau,” tulis De Groot.

Tanggal 1 Agustus De Groot sampai di tempat kedudukan Den Dekker di Sungai Lolo. Selanjutnya ia dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Sungai Manggar pada hari Minggu tanggal 3 Agustus. Perjalanan ke Sungai Manggar semula akan ditempuh lewat jalur laut. Namun minimnya angin membuat perahu yang mereka gunakan kesulitan berjalan.

Mereka pun harus beralih ke jalur darat dan berjalan kaki menyusuri pantai dari Tanjung Burong Mandi. De Groot dan rombonganya tiba di muara Sungai Manggar pada hari Minggu tanggal 3 Agustus 1862 pukul 11.30.

”Yang kami temui di muara sungai adalah kepala Sekah Ma Demang dan Ma Tija bersama sejumlah anak buahnya...sambil beristirahat di pantai di bawah pohon cemara laut kami melihat keterampilan Orang Sekah  menangkap ikan...dengan perut lapar dan lidah haus kami lanjutkan perjalanan di tepi pantai yang sudah terendam air karena laut pasang, ke arah selatan ke Tanjung Semak,” kata De Groot

De Groot dan rombongan melewati kaki bukit Celaka di tepi pantai yang ditumbuhi banyak pohon. Satu pohon di antaranya roboh ke arah laut sehingga mereka harus melewatinya meski harus menantang maut.

”Setengah enam kami sampai pada batu pasir dekat Tanjung Semak dan arena perahu layar belum kelihatan dan di sini kami ada di tanah tinggi dan kering, sesuai untuk berkemah, diputuskan untuk bermalam di situ, pada tepi hutan, dekat pantai, dan pemandangan bebas ke atas laut. Untuk kemah, beberapa pohon ditebang, dibersihkan dan dinyalakan api. Dua api unggun dinyalakan di tepi hutan, dan yang ketiga di pantai di atas garis air tinggi untuk melindungi kami dari babi hutan, buaya, ular, dan sebagainya. Juga sebagai pertanda bagi Den Dekker untuk menemukan kami,” kata De Groot.

Dalam konteks ini, De Groot dan rombongan berharap perjalanan menuju Lenggang dilanjutkan lewat jalur laut menggunakan perahu Den Dekker. Perahu Den Dekker yang sebelumnya tak bisa berlayar karena tidak ada angin, akhirnya baru bisa bergerak pada pukul 15.00, dan tiba. Pukul 19.00 perahu Orang Laut Ma Demang dan Ma Tija mendekat ke arah lokasi perkemahan De Groot. Mereka bertugas menjemput De Groot dan rombongan untuk dibawa ke Kapal Den Dekker.

Tapi karena air laut dangkal, perahu Orang Laut itu tidak bisa merapat ke tepi pantai. Angin dan ombak yang bergemuruh tidak memungkinkan pihak De Groot untuk berkomunikasi dengan Orang Laut tersebut.

”Tetapi akhirnya kita memperoleh kontak oleh keputusan berani dari beberapa Orang Sekah yang meloncat dari perahu dan berenang ke pantai sambil melawan ombak. Mereka menyampaikan kepada kami permohonan agar kami mengelilingi Tanjung Semak, yang mana di sebelah selatan dari tanjung itu diperkirakan tidak ada gelombang akan dijemput,” kata De Groot.

Permohonan itu dipenuhi De Groot dan mereka langsung membongkar kemah. Dengan disinari sinar bulan, rombongan De Groot melewati bebatuan Tanjung Semak. Perjalanan dalam kondisi setengah gelap nan berbahaya itu hanya berbekal senjata tongkat panjang.

Halaman
123
Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Wahyu Kurniawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved